Ratusan TKW Disekap di Arab Saudi

"Mereka mengkhawatirkan sekali seperti orang kerja paksa. Jadi dia disekap tapi hanya untuk bekerja dan tidak digaji dan diperlakukan tidak manusiawi,"

Rabu, 05 Apr 2017 10:09 WIB

Ilustrasi (sumber: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Mataram- Sebanyak delapan orang tanaga kerja wanita (TKW) asal Lombok, Nusa Tenggara Barat yang   disekap di Riyadh, Arab Saudi sudah dipulangkan ke kampung halamannya pada pekan kemarin. Ketua Dewan Pengawas LSM Buruh Migran Panca Karsa Mataram, Endang Susilowati mengatakan, mereka disekap bersama sekitar 300 orang TKW yang juga berasal dari Lombok.

Kata Endang, Mereka berada di tempat penampungan yang tidak layak dan dipaksa untuk bekerja tanpa digaji. Endang menjelaskan, pemulangan mereka dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bekerjasama dengan Mabes Polri dan Kementerian Tenaga Kerja. 

“Ada delapan orang yang sudah pulang. Karena kami juga sudah bersurat ke Dinas. Jadi kita minta itu segera ditangani karena mereka mengkhawatirkan sekali seperti orang kerja paksa. Jadi dia disekap tapi hanya untuk bekerja dan tidak digaji dan diperlakukan tidak manusiawi," ujar Endang, Rabu (5/4).
 
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, Wildan mengatakan belum mendapat informasi yang valid terkait berapa sebenarnya jumlah TKW asal NTB yang diduga disekap di Riyadh tersebut. Termasuk juga apakah mereka berstatus legal atau illegal.

Wildan mengatakan   berkoordinasi dengan Kemenaker terkait keberadaan TKW itu. Ia menjanjikan, bila diketahui ilegal, pemerintah akan tetap memberikan perlindungan dan memfasilitasi kepulangannya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu