Pemerintah Validasi Data Penerima Jadup Korban Banjir di Aceh Tenggara

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memastikan, bakal menyalurkan jatah bantuan hidup (Jadup) bagi korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.

Minggu, 16 Apr 2017 19:11 WIB

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa saat sedang menyambangi warga korban banjir bandang di Posko Pengungsian Desa Lawe Sigala Barat, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara. (Foto: Er


KBR, Aceh Tenggara – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memastikan, bakal menyalurkan bantuan Jaminan Hidup (Jadup) bagi korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Bantuan tersebut diserahkan setelah masa tanggap darurat berakhir.

Khofifah mengatakan, kini proses validasi data penerima bantuan terus berlangsung. Verifikasi tersebut melibatkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan perangkat desa. Langkah ini dilakukan agar data warga yang mendapatkan bantuan, akurat.

"InsyaAllah Kementerian sosial akan mencairkan jadup sesuai kriteria yang di-SK-kan bupati. Proses validasi datanya sudah hampir rampung. Jadi kalau itu sudah selesai, maka setelah proses tanggap darurat atau 14 hari, Kemensos akan mencairkan jadupnya," kata Khofifah di Aceh, Sabtu (15/4/2017).

Dia pun menambahkan, penyaluran bantuan itu dinilai penting untuk membantu kebutuhan para korban pasca bencana alam.

Baca juga:

Sekretaris BPBD Aceh Tenggara, Muhammad Nur Hasan Bangko menjelaskan, seluruh tim validasi data sedang mengecek kesesuaian penerima bantuan dengan fakta di lapangan. Selain itu, tambah Nur Hasan, polisi setempat turut dilibatkan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

"Dalam 2 hari ini sudah ada data jelasnya, jadi nanti tidak ada simpang-siur lagi. Kami harap secepatnya bisa diperoleh data real," tambahnya.


Relokasi

Selain itu, pemerintah juga tengah menggodok langkah antisipasi agar bencana serupa tak terulang. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Bupati Aceh Tenggara Hasanuddin Beruh serta sejumlah pihak lain.

Pilihan yang muncul, salah satunya adalah rencana relokasi ke wilayah yang aman dari gerakan tanah.

"Apakah nanti opsinya direlokasi atau bagaimana, kita tunggu saja keputusan yang paling tepat. Kami telah berkoordinasi dengan Bupati Aceh Tenggara Hasanuddin Beruh dan beberapa pejabat terkait atas kemungkinan untuk mencari beberapa opsi bagi tempat tinggal korban," terang Khofifah di sela kunjungannya, Sabtu (15/4/2017).

Sabtu (15/4/2017) kemarin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengunjungi lokasi bencana banjir bandang di Aceh Tenggara. Kedatangannya itu juga disertai dengan penyerahan bantuan hingga Rp398,923 juta. Mensos Khofifah juga memberi bantuan kepada dua ahli waris korban tewas. Masing-masing senilai Rp15 juta.

Korban tewas antara lain Boru Panjaitan (68 tahun) asal Desa Lawe Sigala Barat dan Terang Sitanggang (1,5 tahun) asal Desa Lawe Tua.

Baca juga:

Sementara bantuan yang disalurkan berupa makanan dan kebutuhan lain semisal tenda serbaguna, tangki air, selimut, rompi tagana, matras dan makanan instan. Tak hanya itu, Kementerian Sosial juga membuka layanan psikososial selama tiga bulan di lokasi bencana.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), jumlah warga yang mengungsi akibat banjir bandang mencapai 812 keluarga atau 3.501 jiwa. Ribuan korban banjir itu ditampung di posko pengungsian di Mesjid Simpang Semadam dan Gereja Lawe Sigala-gala.

Bencana ini juga mengakibatkan 336 bangunan rumah rusak ringan, 171 rumah rusak berat dan tiga unit rumah ibadah terdampak. Banjir di Aceh Tenggara pada Selasa (11/4/2017) lalu tersebut menerjang 12 desa yang tersebar di tiga kecamatan, antara lain Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kecamatan Semadam dan Kecamatan Babu Makmur.

Baca juga: Korban Banjir Bandang di Aceh Tenggara


Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!