Pasien TBC di Kota Malang Meningkat Lebih 50 Persen

"Lebih banyak pada keluarga miskin, rumahnya kecil. Sehingga sirkulasi udara kurang, otomatis udara di rumah itu mengandung bakteri TBC,”

Senin, 10 Apr 2017 11:43 WIB

Ilustrasi

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Malang– Jumlah penderita tuberkulosis (TBC) di Kota Malang, Jawa Timur, terus meningkat. Diduga pasien yang menghentikan pengobatan sebelum sembuh total. Akibatnya menularkan penyakit itu, terutama pada anggota keluarganya.
 
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, pada 2015 ditemukan 1.123 kasus TBC. Setahun berikutnya, jumlahnya naik menjadi 1.851 kasus. Untuk  2017 ini, belum ada data baru yang masuk ke Dinkes.
 
Kepala Dinkes Kota Malang, Asih Tri Rachmi Nuswantari mengatakan, pada  2015 ada 113 penderita TBC yang DO dari pengobatan sebelum sembuh total dan berpotensi menularkan penyakitnya lewat kontak langsung.
 
“Karena kan kalau dia DO, dia akan menjadi lebih imun terhadap pengobatan ini. Kalau kita lihat kenapa penderita TBC ini tak segera sembuh atau meningkat, itu karena kontak langsung dengan keluarga. Lebih banyak pada keluarga miskin, rumahnya kecil. Sehingga sirkulasi udara kurang, otomatis udara di rumah itu mengandung bakteri TBC,” kata Asih.

Kata dia, Penderita TBC dari keluarga miskin tak perlu takut soal biaya lantaran ditanggung oleh Pemerintah Kota. Ada juga bantuan obat – obatan dari pemerintah pusat. Selain pengobatan, juga dibantu asupan berupa susu tinggi kalori dan protein untuk memperbaiki kondisi tubuhnya.
 
Di Kota Malang, ada 53 dokter swasta yang terlatih dengan metode pengobatan Directly Observed Therapy (DOT). Juga ada 150 kader yang dilibatkan membantu penanganan penyakit ini. Kasus TBC paling banyak ditemukan saat pasien berobat di Puskesmas dengan persentase 36 persen, rumah sakit 37 persen, dokter mandiri swasta 26 persen, kader 1 persen dan kelompok masyarakat 1 persen.
 
“Kami sudah berupaya maksimal menangani penyakit itu. Kami sudah membentuk jejaring melibatkan dokter praktek mandiri dan Puskesmas sampai kelompok masyarakat,” ujar Asih.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan