Kongres Penulis: Pajak Bikin Tak Sejahtera

Kongres penulis digelar hingga 3 hari kedepan di Solo, Jawa Tengah

Kamis, 27 Apr 2017 22:25 WIB

Suasana kongres Persatuan Penulis Indonesia, SATU PENA, di Surakarta Jawa Tengah, Kamis (27/4/2017). (Foto: KBR/Yudha Satriawan)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Solo- Lebih dari 100 penulis buku berbagai genre berkumpul di Solo selama 3 hari mendatang, Kamis (27/4) hingga Sabtu (29/4). Ratusan penulis ini menggelar kongres Persatuan Penulis Indonesia atau SATU PENA. Kesejahteraan para penulis buku menjadi topik utama dalam acara ini. Juru bicara SATU PENA sekaligus penyelenggara Kongres, Imelda Akmal, mengungkapkan masih banyak kendala yang dihadapi para penulis buku di Indonesia, semisal soal pajak.

"Di mata rantai perbukuan, banyak sekali pajak. Dari mulai menulis, kemudian ke penerbit, membeli bahan baku kertas sudah kena pajak, membeli tinta sudah ada pajak, kemudian mencetak, ada pajak, dikenakan ke penerbit. Perusahaan percetakan kena pajak. Buku ketika dijual ke pasaran, kena pajak, Ppn 10 persen, PPh 15 persen ke penulis ketika akan menerima royalti sudah dipotong 15 persen," ujarnya dalam acara itu.

Imelda lalu membandingkan nasib penulis buku di luar negeri dengan kondisi di dalam negeri. "Di luar negeri, penulis buku Harry Potter, itu ada agen yang melindungi karyanya. Jangan lupa, tokoh tulisan di buku jika dibuat dalam bentuk merchandise atau boneka, kaos, dan sebagainya, royalti dibayarkan ke pencipta tokoh atau penulis bukunya, kita belum ada sampai sejauh itu," tambah keluhnya.

Kongres SATU PENA ini digelar sebagai tindak lanjut dari pertemuan dalam Borobudur Writer dan Culture Festival di Magelang Jawa tengah, Oktober tahun lalu. Kongres bertema "Menulis untuk Kebhinekaan" ini dikuti para penulis dari berbagai genre antara lain sastra, seni, sejarah, komik, sains, travel, buku anak, kuliner, ekologi, dan sebagainya.

Editor: Dimas Rizky 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jokowi: Bantuan untuk Kabupaten Asmat Terkendala Akses Transportasi

  • Pemikul Sabu 30 Kilogram Divonis 20 Tahun
  • Hari Kelima, Kabut Asap Tebal Landa Hong Kong
  • Federer Lolos ke Perempat Final Australia Terbuka

Presiden Joko Widodo menyerukan agar PR anak-anak sekolah tak hanya urusan menggarap soal. Tapi melakukan hal-hal yang terkait kegiatan sosial dan lingkungan.