Konflik Keraton Solo, Polisi Periksa 2 Saksi Hari InI

2 saksi lainnya, termasuk terlapor, tak memenuhi panggilan lantaran sakit

Senin, 17 Apr 2017 21:34 WIB

Polisi berjaga di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (15/4) saat proses penggeledahan oleh Polda Jawa Tengah. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Semarang- Kepolisian Daerah Jawa Tengah memeriksa 2 saksi untuk dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen kekancingan, Senin (17/4/2017). Dokumen kekancingan merupakan surat pemberian gelar bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Djarod Padakova mengatakan total polisi memanggil 4 saksi hari ini. Namun 2 diantaranya berhalangan hadir.

"Penyidikan sudah berjalan, yang mana hari ini memang kita panggil sebagai saksi 4 (dan)  yang hari ini hadir 2 saksi. Saat ini sedang dilaksanakan intrograsi dan pemeriksaan oleh penyidik Direktorat Kriminal Umum Polda Jawa Tengah," kata Djarod kepada KBR, Senin (17/4/2017).

Kedua saksi yang hadir dalam pemeriksaan tersebut berinisial L dan W. Sedangkan dua saksi lainnya berinisial KM alias Gusti Moeng yang juga terlapor dan P, tidak hadir lantaran masalah kesehatan.

Hingga hari ini, Polda Jawa Tengah telah memeriksa 16 saksi terkait dugaan dokumen palsu Keraton Surakarta, termasuk saksi ahli. Saat ini Polda Jawa Tengah masih menjaga Keraton Surakarta hingga puncak acara Jumenengan tanggal 22 April 2017. Pada tanggal itu Keraton Solo akan memberikan gelar bangsawan kepada masyarakat. Pemberian gelar itu dilakukan saat acara peringatan naik tahta Raja Keraton Solo, Paku Buwono (PB) XIII.

Sebelumnya kepolisian Jawa Tengah menyita barang bukti berupa komputer, printer, blangko kekancingan pasca pelaporan adanya pemalsuan dokumen kekancingan. Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Djarod Padakova mengakui polisi mendapat laporan itu dari kubu PB XIII.

Editor: Dimas Rizky 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!