FKUB Cilacap Minta Aparat Turunkan Puluhan Spanduk Provokatif

Puluhan spanduk bernada provokatif, terutama berupa dukungan pendirian negara khilafah dan penerapan syariat Islam dipasang merata di tiap kecamatan dengan jumlah antara dua hingga tiga spanduk.

Minggu, 02 Apr 2017 13:42 WIB

Salah satu spanduk yang dianggap provokatif terpasang di Cilacap. (Foto: KBR/ Ridlo)


KBR, Cilacap – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah meminta aparat keamanan segera mencopot spanduk-spanduk yang dianggap bernada provokatif, terutama berupa dukungan pendirian negara khilafah dan penerapan syariat Islam.

Ketua FKUB Cilacap, Taufik Hidayatullah berpendapat, spanduk tersebut mengancam nilai toleransi antarumat beragama, pancasila dan NKRI. Kepada KBR Taufik menuturkan, spanduk mulai bermunculan sebelum aksi 313 di Jakarta pada pekan lalu. Itu sebab, dia menduga ada kaitannya antara aksi 313 dengan pemasangan spanduk.

"Beberapa waktu lalu, sudah ada di Kecamatan Patimuan. Kita belum melihat tindakan aparat. Ya, bahwa isu-isu seperti itu kan meresahkan kelompok lintas agama," jelas Taufik Hidayatulloh, Sabtu (1/4/2017).

Puluhan spanduk itu dipasang merata di tiap kecamatan dengan jumlah antara dua hingga tiga spanduk atau banner. Sebuah spanduk, bahkan dipasang di dinding pembatas sekolah di SMPN 2 Majenang, Kabupaten Cilacap.

Baca juga:

Taufik mengungkap, pemasangan spanduk dukungan terhadap khilafah tersebut sempat memancing anggota Barisan Serbaguna Ansor (Banser) NU Cilacap menurunkan spanduk. Namun lantas aksi itu dihentikan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Karena tindakan tersebut, mmenurut PCNU merupakan kewenangan aparat.

PCNU pun menyarankan agar aparat keamanan setempat yang mencabut spanduk-spanduk itu, namun hingga Sabtu (1/4/2017) kemarin, spanduk masih terpasang.
 
Lebih lanjut Taufik Nurhidayat mengatakan munculnya spanduk dukungan khilafah itu menimbulkan keresahan di kalangan minoritas. Itu sebab, dia membawa perkara ini ke Forum Lintas Agama dan meminta aparat, kepolisian serta Satpol PP bertindak.

"Karena kemudian mereka berpikir, jika kelompok keagamaan formalis ini menguasai Indonesia, mereka (minoritas) menjadi pihak yang terugikan."

Taufik mencontohkan, salah satu spanduk bertulis: "Masirah Panji Rasulullah, Khilafah Kewajiban Syari menuju Kebangkitan Umat". Spanduk lainnya, menurut Taufik juga bernada sama, provokasi kepada umat Islam untuk mendirikan negara khilafah.

Baca juga:

"Berulangkali dalam rapat kita, memang disampaikan bahwa mereka (kelompok minoritas) resah terhadap spanduk-spanduk yang bernada provokatif, terutama khilafah," kata Taufik.

Dia pun menambahkan, sebelum perayaan natal tahun lalu, spanduk bernada SARA juga sempat muncul di Cilacap. Isinya, penolakan terhadap atribut natal bagi kelompok muslim. Spanduk tersebut menurutnya juga meresahkan dan, berpotensi memancing aksi intoleransi.



Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jokowi: Bantuan untuk Kabupaten Asmat Terkendala Akses Transportasi

  • Pemikul Sabu 30 Kilogram Divonis 20 Tahun
  • Hari Kelima, Kabut Asap Tebal Landa Hong Kong
  • Federer Lolos ke Perempat Final Australia Terbuka

Presiden Joko Widodo menyerukan agar PR anak-anak sekolah tak hanya urusan menggarap soal. Tapi melakukan hal-hal yang terkait kegiatan sosial dan lingkungan.