FKUB: Belasan Sekolah di Cilacap Disusupi Paham Radikal

Ada kalanya penyajian paham radikal dilakukan pagi hari sebelum pelajaran dimulai atau diantara jam pelajaran. Seringkali, guru berpaham radikal mengutip sejumlah ayat Surat Al Maidah.

Selasa, 04 Apr 2017 21:41 WIB

Ilustrasi. Spanduk pendukung khilafah Islam terpasang di Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Muh Ridlo Susanto/KBR)


KBR, Cilacap – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cilacap mencatat setidaknya ada 16 sekolah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang disusupi paham radikal.

Ketua FKUB Cilacap Taufik Hidayatulloh mengatakan belasan sekolah tersebut terdiri dari 14 SLTA dan dua SLTP.

Data FKUB itu diperoleh dari laporan yang masuk dari siswa maupun orang tua siswa. Mereka melaporkan kegiatan penyebaran paham radikal oleh guru kepada siswa antara tahun 2015 hingga 2016 lalu.

Taufik menyebutkan tidak menutup kemungkinan jumlah sebenarnya lebih besar lagi, karena FKUB baru mendasarkan pada data laporan masuk dan observasi ke sekolah yang dilaporkan.

Dari laporan yang masuk ke FKUB, kata Taufik, modus penyebaran paham radikal itu dilakukan oleh guru di sela-sela pengajaran materi sekolah. Ada kalanya penyajian paham radikal dilakukan pagi hari sebelum pelajaran dimulai atau diantara jam pelajaran. Seringkali, guru berpaham radikal mengutip sejumlah ayat Surat Al Maidah untuk memberikan dalil paham radikal.

"Di salah satu SMK misalnya, pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, guru berbicara standar mengutip Surat Al-Maidah ayat sekian sekian. Bahwa 'siapa yang tidak berhukum pada hukum Allah berarti kafir'. Ada juga guru yang menyebutkan Indonesia negara kafir, toghut yang tidak boleh diikuti karena berdasar Pancasila," kata Taufik Hidayatulloh, Selasa (4/4/2017).

Baca juga:


Taufik menambahkan berdasarkan laporan itu ada guru yang mengharamkan upacara bendera di sekolah, mengharamkan lagu Indonesia Raya hingga hormat bendera dengan alasan syirik atau menyekutukan Tuhan.

Berdasarkan pengamatan lapangan, kata Taufik, ternyata guru-guru yang mengajarkan paham radikal itu bukan dari guru pengajar Pendidikan Agama Islam, melainkan guru pelajaran umum.

Taufik mengklaim sudah membicarakan kasus-kasus itu dengan Dinas Pendidikan, Kantor Kementerian Agama dan Kepolisian Cilacap, dan ia mendorong ada program deradikalisasi di sekolah-sekolah yang diduga sudah disusupi paham radikal itu.

Taufik mengatakan sebetulnya selama ini program deradikalisasi sudah masuk ke sekolah-sekolah. Di samping itu FKUB juga rutin menggelar Jambore lintas iman, berisi kemah dan kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan para pemuda Cilacap yang berasal dari agama dan suku berbeda.

Tahun ini, kata Taufik, program deradikalisasi juga dilakukan dengan sasaran masyarakat umum. Ia menilai, masyarakat umum juga rentan disusupi paham radikal.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.