Disebut Memojokkan Etnis Tionghoa, Sultan Yogyakarta Lapor Polisi

Berita itu sempat menjadi viral di Yogyakarta

Rabu, 19 Apr 2017 20:02 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X, Rabu (21/12/2016) (Foto: KBR/Eka Juniari)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

ARTIKEL TERKAIT


KBR, Yogyakarta- Gubernur Hamengku Buwono X mendatangi markas Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melaporkan berita daring yang menyebarkan berita bohong alias hoax terkait dirinya yang memojokkan etnis Tionghoa. Sultan menyatakan tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti yang tertuang dalam pemberitaan media daring yang menjadi viral tersebut. Terlebih, berita tersebut muncul di tengah momentum pilkada Gubernur DKI Jakarta.

Menurut Sultan, kalimat yang tertuang dalam berita itu melanggar perundang-undangan. Sultan meminta kepolisian mengusut asal berita tersebut. Bagi Sultan, isi berita membuatnya sedih dan prihatin karena menyeretnya dalam hiruk pikuk pilkada DKI Jakarta.

"Dalam arti saya merasa dirugikan karena saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Saya merasa sedih dan prihatin. Kenapa saya harus dilibatkan dalam hal hal yang saya tidak punya kewenangan apapun menyangkut pilkada di Jakarta? Di situ ada kalimat yang di mana saya diperkirakan berbicara memojokkan etnik tertentu yang berupa sara," kata Sultan di Polda DIY, Rabu sore (18/4/2017).

Mengaku mengetahui keberadaan pemberitaan itu Rabu pagi, Sultan langsung berinisiatif melapor ke Polda DIY. Tanpa didampingi pengacara, Sultan Hamengku Buwono X datang sendiri dan membuat laporan sesuai hak pribadi warga negara. Menyusul pemberitaan yang menyebut Sultan memojokkan etnis Tionghoa, raja Kraton Yogyakarta itu menyatakan tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut.

"(Apa ada kaitannya dengan pilkada DKI?) Ada menyebut di Jakarta. Momentum pas ada pilkada di Jakarta. Saya tidak pernah melakukan seperti bunyi di medsos," ujarnya.

Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan sepenuhnya proses pengusutan berita tersebut pada polisi dan tidak merasa perlu membuat himbauan pada masyarakat.

"Saya tidak punya keinginan untuk melakukan himbauan ke masyarakat. Saya khawatir nanti keluar di medsos dibolak balik lagi. Hanya komentar perasaan saya saja yang merasa sedih prihatin. Terserah masyarakat yang membaca. Saya punya komentar bisa dibalik lagi di medsos. Jadi masalah," lanjutnya.

Sebelumnya, beredar berita hoax di salah satu media daring yang lantas meluas di media sosial. Isinya yaitu menyoal etnis Tionghoa yang tidak pantas memimpin, berdasar faktor sejarah. Disebutkan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1