Demi Hutan dan Lingkungan, Kakek 74 Tahun Asal Banten Gowes 38 Ribu Kilometer

Kakek asal Banten itu memulai gowes sejak 16 September 2016, menempuh 38 ribu km jalan darat serta 9 ribu km jarak laut dan udara. Ia gowes untuk mengkampanyekan pelestarian lingkungan dan hutan.

Jumat, 07 Apr 2017 14:17 WIB

Kakek Andik 74 tahun saat singgah di kantor Pemkab Rejang Lebong Bengkulu dalam perjalanan gowes keliling Indonesia. (Foto: Muh Anthoni)


KBR, Rejang Lebong - Seorang pria lanjut usia, Raden Andik Jaya Prawira (74 tahun) tetap bersemangat menempuh perjalanan jauh keliling Indonesia dengan bersepeda.

Kakek asal Banten itu memulai gowes sejak 16 September 2016, dan menempuh sedikitnya 38 ribu kilometer darat serta 9 ribu kilometer jarak laut dan udara. Ia gowes untuk mengkampanyekan pelestarian lingkungan dan hutan.

"Saya warga lansia pertama di Indonesia yang melakukan perjalanan sejauh ini, dan mendapatkan dua kali rekor Museum Rekor Indonesia MURI. Ketika saya mengunjungi setiap daerah, pesan yang saya bawa adalah penyelamatan lingkungan dan pelestarian hutan," kata Andik kepada KBR, di Rejang Lebong, Bengkulu, Kamis (6/4/2017).

Kabupaten Rejang Lebong merupakan kabupaten terakhir di Bengkulu yang ia singgahi. Selanjutnya, ia akan meneruskan gowes keliling Indonesia menuju Sumatera Selatan untuk selanjutnya kembali ke Banten sebagai persinggahan terakhir.

"Target terakhir saya supaya bisa bertemu Jokowi. Saya ingin menyampaikan permasalahan apa saja yang saya lihat selama perjalanan. Harapan saya urusan hutan Indonesia bukan hanya menjadi urusan pejabat saja melainkan juga menjadi urusan seluruh rakyat Indonesia," kata kakek yang akrab dipanggil Kang Andik itu.

Sepanjang perjalanan, ia melihat kondisi hutan di Indonesia yang memprihatinkan. Hutan saat ini mengalami deforestasi atau tingkat penggundulan yang tinggi. Kondisi kini jauh beda dengan tahun 1996, ketika ia menjabat pegawai Dinas Kehutanan di Kalimantan.

"Jujur saat ini saya sedih melihat kondisi hutan Indonesia. Ketika saya mampir ke Dinas-dinas Kehutanan, pengelolaan Taman Nasional maupun kawasan konservasi lainnya. Banyak staf kehutanan yang mengeluhkan dengan aksi pembalakan liar, illegal logging yang sangat tinggi. Sedangkan jumlah personil penjaga kawasan tidak mencukupi," kata Kang Andik.

Andik juga mengkritik kebijakan pemerintah yang menggabungkan kementerian kehutanan dengan kementerian lingkungan hidup. Seharusnya, untuk mengurusi hutan Indonesia ada kementerian tersendiri di bidang kehutanan, dengan diisi orang-orang yang profesional di bidang kehutanan.

Selesai menjelajah Indonesia, Andik tidak berhenti. Warga lansia ini berambisi meneruskan perjalanannya dengan sepeda ke Australia. Ia bercita-cita menyuarakan agar Australia membantu memberikan kontribusi bagi Indonesia.

"Oksigen di Australia itu berasal dari hutan Indonesia. Karena itu saya akan dorong pemerintah Australia agar memberikan kontribusi ke Indonesia yang telah menjaga hutannya," kata Andik.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Jokowi : Start Up Jangan Dicekik Regulasi

  • Kemendagri Persilakan TNI Gunakan Fasilitas Pemda Untuk Pemutaran Film G30S
  • Kasus Saracen, Alasan Polisi Periksa Kejiwaan Tersangka
  • Produksi PCC di Purwokerto Capai Ratusan Ribu Butir