Dalam Tujuh Tahun, 44 Ekor Gajah di Aceh Mati karena Ulah Manusia

"Ada gajah yang kena jerat, sempat diobat tapi kemudian mati. Kebanyakan diracun dan ditembak," kata Sapto kepada KBR, Senin (24/4/2017).

Senin, 24 Apr 2017 22:40 WIB

Tim dokter hewan dari BKSDA Aceh sedang melakukan visum dan otopsi terhadap bangkai gajah yang ditemukan di Desa Ekan Kecamatan Pining Kab Gayo Luwes pada April 2017. (Foto: Erwin Jalaluddin/KBR)


KBR, Gayo Lues – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh mencatat sejak 2010 hingga 2017 terdapat 44 ekor gajah mati karena ulah manusia.

Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo mengatakan puluhan satwa dilindungi itu mati karena diburu dengan senapan, dijerat dan diracun. Sebagian besar gajah mati ditemukan di Kawasan timur Aceh seperti Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Takengon dan Gayo Lues.

Sapto Aji mengatakan kematian gajah itu merupakan dampak dari tingginya konflik dengan manusia. Berdasarkan survei, 85 persen habitat gajah Aceh berada di luar kawasan hutan. Konflik gajah dengan manusia meningkat dengan maraknya pembukaan lahan baru untuk permukiman penduduk maupun perkebunan.

"Ada gajah yang kena jerat, sempat diobat tapi kemudian mati. Kebanyakan diracun dan ditembak," kata Sapto kepada KBR, Senin (24/4/2017).

Meningkatnya kegiatan pembukaan lahan baru itu, kata Sapto Aji, membuat wilayah jelajah gajah semakin sempit, sehingga konflik pun kerap terjadi dengan manusia.

"Karena masyarakat merasa terganggu, maka mereka memasang racun, memasang jerat atau racun," kata Sapto Aji.

Kepala BKSDA Provinsi Aceh, Sapto Aji Prabowo meminta aparat keamanan dan pemerintahan menyelamatkan keberadaan gajah di Aceh.

"Kalau dibiarkan terus-menerus begini, bisa-bisa jumlah gajah semakin sedikit," kata Sapto.

Di tahun 2017 saja, BKSDA Aceh mencatat ada dua kasus kematian gajah yaitu di Aceh Timur dan Gayo Lues. Berdasarkan penyelidikan BKSDA Aceh, kematian gajah disebabkan lima luka tembakan. Sedangkan, di Gayo Lues dugaan sementara karena racun.

Sapto Aji menambahkan berdasarkan informasi yang didapat BKSDA perburuan terhadap gading gajah meningkat karena mahalnya gading gajah di pasar gelap. Harga gading gajah di pasar ilegal mencapai Rp4 juta per kilogram.

"Mungkin harganya di pasar gelap begitu tinggi, sampai-sampai diburulah itu po meurah. Kalau sudah tahap ke perburuan berarti ada sindikatnya yang bermain," kata Sapto Aji. Po Meurah merupakan sebutan warga Aceh terhadap gajah.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing