Alasan Bupati Ponorogo Hentikan Pencarian Korban Longsor

"Ini saya hentikan saja. Karena apa apabila lanjut akan memperparah kejenuhan air yang ada di dalam tanah itu."

Senin, 10 Apr 2017 08:38 WIB

Pencarian korban bencana longsor di Ponorogo. (Foto: KBR/Adhar M.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Ponorogo- Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur menghentikan total seluruh proses pencarian 24 korban tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, pascakejadian longsor susulan pada Minggu siang. Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni  saat di posko tanggap darurat mengatakan, penghentian total tersebut dilakukan setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi dengan  Basarnas, BPBD, Kepolisian, TNI dan kepala desa setempat. 

Menurut dia,  timbunan material longsor  sangat labi;, sehingga tidak mungkin dilakukan proses penggalian maupun pengerukan. Karena apabila dipaksa justru akan membahayakan tim evakuasi dan kawasan perkampungan yang ada di bawahnya. 

Rencananya, pemerintah akan konsentrasi untuk melakukan penataan aliran sungai, agar air dan lumpur tidak membahayakan perkampungan warga. 

"Ini saya hentikan saja. Karena apa apabila lanjut akan memperparah kejenuhan air yang ada di dalam tanah itu. Jadi mulai saat ini kami akan fokus untuk membuat saluran untuk mengalirkan lumpur dan airnya. Kalau tidak dikasih jalan akan menerjang kemana-mana," kata Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, Minggu (10/04)

Ipong menambahkan, Senin ini  tim tanggap darurat akan berusaha mengevakuasi satu unit alat berat jenis ekskavator yang tertimbun material tanah, dua unit mobil dan lima unit sepeda motor milik para relawan.

Dengan keputusan penghentian operasi pencarian, kawasan bencana longsor tersebut menjadi kuburan massal, karena dari 28 korban yang dinyatakan hilang, baru empat jenazah yang ditemukan.

Editor: Rony Sitanggang



Ponorogo - Pemerintah Kabupaten Ponorogo mengentikan total seluruh proses pencarian 24 korban tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, pascakejadian longsor susulan pada Minggu siang. 


Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, Minggu (9/4/2017) saat di posko tanggap darurat mengatakan, penghentian total tersebut dilakukan setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi dengan lintas instansi=, mulai dari Basarnas, BPBD, Kepolisian, TNI dan kepala desa setempat. 


Menurutnya, kondisi timbunan material longsor kondisinya sangat labih, sehingga tidak mungkin dilakukan proses penggalian maupun pengerukan. Karena apabila dipaksa justru akan membahayakan tim evakuasi dan kawasan perkampungan yang ada di bawahnya. 


Rencananya, pemerintah akan konsentrasi untuk melakukan penataan aliran sungai, agar air dan lumpur tidak membahayakan perkampungan warga. 


"Ini saya hentikan saja, karena apa apabila lanjut akan memperparah kejenuhan air yang ada di dalam tanah itu. Jadi mulai saat in kami akan fokus untuk membuat saluran untuk mengalirkan lumpur dan airnya. Kalau tidak dikasih jalan akan menerjang kemana-mana," katanya. 


Ipong menambahkan, untuk besok tim tanggap darurat akan berusaha mengevakuasi satu unit alat berat jenis ekskavator yang tertimbun material tanah, dua unit mobil dan lima unit sepeda motor milik para relawan.


Dengan keputusan penghentian operasi pencarian, kawasan bencana longsor tersebut menjadi kuburan massal, karena dari 28 korban yang dinyatakan hilang, baru empat jenazah yang ditemukan. Sedangkan 24 sisanya masih sinyatakan hilang. (Adhar Muttaqin)  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.