Selain Gas Beracun Ijen, Warga Diminta Wapada terhadap Longsoran

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen, Bambang Heri menerangkan, longsoran yang biasanya hanya sekali atau dua kali bisa mencapai 10 kali longsor.

Jumat, 23 Mar 2018 17:23 WIB

Gunung Ijen mengeluarkan asap di Kecamatan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (22/3). Ratusan warga di lereng Gunung Ijen terpaksa mengungsi guna menghindari gas beracun. (Foto: ANTARA)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banyuwangi - Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen meminta warga di sekitar kawasan tak hanya waspada terhadap bahaya gas beracun, melainkan juga longsoran tanah dari tebing kawah.

Imbauan tersebut lantaran menurut pantauan pos pengamatan, aktivitas longsoran tebing kawah akan meningkat pada musim penghujan seperti saat ini. Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen, Bambang Heri menerangkan, longsoran yang biasanya hanya sekali atau dua kali bisa mencapai 10 kali longsor.

Kendati longsoran itu kecil, namun menurutnya tetap berbahaya.

"Kalau longsoran itu tetap itu terjadi tapi kecil-kecil, untuk kepastiannya kami akan cek ke lapangan. Gunung Ijen itu kan luas, orang-orang itu ada di dalam kaldera, bisa saja kaldera itu ada 17 kilo bisa disitu," kata Bambang Heri Purwanto di Banyuwangi, Jumat (23/3/2018).

Baca juga:

Bambang Heri melanjutkan, longsoran yang terus meningkat dapat mengakibatkan luapan danau kawah. Karenanya ia meminta para wisatawan untuk tak mendekati Gunung Ijen pada radius satu kilometer dari bibir kawah.

Hingga Jumat (23/3/2018), kawasan Ijen masih ditutup total dari aktvitas pendakian dan penambangan belerang. Langkah ini dipilih karena kawasan sekitar gunung masih terpapar gas beracun pasca ledakan danau kawah pada Rabu (21/3/2018) malam.

Penutupan diberlakukan hingga kawasan Gunung Ijen dipastikan benar-benar aman dari paparan gas beracun.




Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".