Warga Rembang Protes Penunggu Pasien Kerap Main Gaple di Selasar Puskesmas

"Tindakan belum ada sama sekali, terus terang banyak yang komplain. Apalagi sampai malam–malam, kan gaduh,“

Kamis, 16 Mar 2017 10:27 WIB

Pengunjung dan penunggu pasien asyik main gaple di selasar puskesmas. (Foto: KBR/Musyafa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Rembang– Warga Rembang, Jawa Tengah protes penunggu dan pembesuk pasien kerap  main gaple di Puskesmas.   Seorang warga di Rembang, Abdul Charis menjelaskan belakangan ini ada Puskesmas yang sering dipakai untuk bermain kartu domino oleh pembesuk pasien pada malam hari.

Dia meminta mereka  segera ditertibkan, karena   mengganggu kenyamanan pasien. Lagipula menurutnya tidak etis, fasilitas umum semacam itu digunakan untuk bermain kartu.
 
“Ya tidak layak dan tidak pantas, karena menjenguk orang sakit malah kayak gitu. Tindakan belum ada sama sekali, terus terang banyak yang komplain. Apalagi sampai malam–malam, kan gaduh,“ keluh Charis kepada KBR, Kamis (16/03).
 
Menanggapi itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengungkapkan dengan status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), semestinya Puskesmas bisa lebih leluasa mengatur rumah tangganya. Termasuk tanpa menunggu pengesahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
 
“Kalau sudah BLUD, bedanya Puskesmas punya otoritas untuk mengatur internalnya. Kalau kurang obat, bisa langsung beli obat. Kalau kurang tenaga, bisa langsung nambah tenaga,“ jelasnya.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofi’i mengakui masih banyak yang harus dilengkapi Puskesmas agar bisa mandiri, sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama. Mulai dari penambahan sarana pra sarana hingga penambahan personel keamanan, untuk mengantisipasi potensi gangguan di dalam Puskesmas.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.