Tiga Gereja di Bogor Diintimidasi Kelompok 11

Ketiga gereja tersebut yaitu Gereja Katolik, Gereja Methodhist Indonesia, dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan.

Minggu, 05 Mar 2017 16:50 WIB

Ilustrasi penjagaan gereja. Foto: Antara

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Tiga gereja di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menerima intimidasi dari Kelompok 11 yang mengancam akan menyegel gereja tersebut. Ketiga gereja tersebut yaitu Gereja Katolik, Gereja Methodhist Indonesia, dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan.

Pengurus Gereja Methodhist Parung Panjang, Efendi Hutabarat mengatakan, kelompok tersebut mengajak masyarakat dengan pengeras suara masjid untuk berkumpul dan menyegel 3 gereja itu. Efendi kemudian meminta bantuan ke TNI-Polri dan Satpol PP untuk menjaga ibadah mereka hari ini.

"Tetapi beribadah, tetapi dijaga oleh polisi dan Koramil. Karena kita bilang sama polisi dan Koramil kami akan jalan, kalian tidak boleh larang. Karena apa, karena bukan solusi. Karena apa, bapak datang kepada kami untuk berbicara harusnya bapak sebagai mediator untuk berbicara kepada mereka. Kok bapak malah maksa, bukan kami yang bapak mediasi. Orang-orang yang menyatakan itu kelompok 11 dari warga sekitar sini dan termasuk Ketua RT dan RW. Kita tadi dijaga polisi dan itu tadi standby semua," jelas Pendeta Efendi Hutabarat kepada KBR, Minggu (5/3/2017).

Efendi Hutabarat menambahkan, tiga gereja tersebut nyaris ditutup Satpol PP Kabupaten Bogor dengan alasan tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Namun, kata dia, ketiga pihak gereja sebenarnya sudah berusaha mengajukan izin dari tingkat RT, RW hingga kelurahan sejak tahun 2000. Namun, perizinan selalu kandas karena ada aturan SKB 2 menteri.

"Kita sudah lama berdiri hanya tanpa IMB. Kita sudah 17 tahun sejak tahun 2000. Dilakukan pengurusan izin tetap mentok karena SK 2 menteri, RT RW," ujarnya.

Kata dia, pihaknya sudah mengajukan izin ke Pemkab Bogor dan mendapatkan respon positif. Menurutnya, Pemkab Bogor mempersilakan beribadah selagi pengurusan izin diproses.

"Kita sudah dapat surat pada November, setelah kita menghadap Sekda dan Kesbang. Mereka mengatakan lanjutkan saja dulu ibadah, sambil suratnya diproses. Kita urus ke RT, RW dan Kelurahan selalu mentok. Saling membalikkan. Alasan mereka karena gereja berada di perumahan," ungkapnya.

Efendi menjelaskan, tiga gereja tersebut berada di area terbuka dan tidak berada tepat dalam pemukiman penduduk sekitar.

"Lokasi kita bukan berada di rumah yang berhadap-hadapan, di depan gereja kita ada jalan besar dan lahan kosong. Jadi bukan berada di depan rumah warga, karena di belakang perumahan," ujarnya.


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Becakayu Ambruk, Menteri PUPR Hentikan Proyek Infrastruktur Jalan Seluruh Indonesia

  • Ketua DPR Persilakan Polri Kaji UU MD3, Tapi Polisi Harus Tetap Patuh
  • Serangan Bom Di Suriah, 77 Orang Tewas
  • Belum Juga Dapat Medali Di Olimpiade, Atlet Korut Was-Was

Tidak lama lagi kita akan merayakan pesta rakyat yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang jatuh pada tahun 2019.