Petani Kalteng Curiga Cabai dari Jawa Mengandung Bahan Kimia

Salah seorang petani lokal di Pangkalan Bun, Imam Kusno mengatakan cabai pasokan dari Jawa itu bertahan lama dan tidak cepat membusuk.

Jumat, 03 Mar 2017 14:13 WIB

Ilustrasi. (Foto: ANTARA)


KBR, Pangkalan Bun - Kalangan petani di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah mencurigai kejanggalan dari pasokan cabai yang didatangkan dari Jawa. Cabai-cabai itu saat ini banyak beredar di pasar tradisional Kotawaringin Barat.

Salah seorang petani lokal di Pangkalan Bun, Imam Kusno mengatakan cabai pasokan dari Jawa itu bertahan lama dan tidak cepat membusuk. Ia mencurigai cabai 'impor' dari Jawa itu mengandung bahan kimia tertentu.

Imam Kusno mengatakan cabai-cabai yang didatangkan dari Jawa itu sebetulnya belum waktunya dipanen. Ia menduga, cabai itu disemprot bahan kimia tertentu. Setelah itu dipanen dan dimasukkan karung. Cabai-cabai itu akan berwarna merah ketika berhari-hari dalam perjalanan menyeberang laut menuju Kotawaringin Barat.

"Kalau cabai Jawa, mohon maaf, belum waktunya panen. Kan disemprot dia, akhirnya dikirim ke Pangkalan Bun. Waktu sampeyan buka, masak satu karung merah semua? Mestinya dua tiga hari sudah busuk dia. Tapi ini tidak, karena dia di-ethrel. Kita di Kobar Kalteng ini masih banyak yang jujur Pak, untuk dikonsumsi. Jadi, cabai di Kobar ini benar-benar bagus," kata Imam.

Ethrel yang dimaksud Imam adalah bahan kimia perangsang pertumbuhan dan pemasakan tanaman atau buah.

Imam meminta Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat tegas menindak para pemasok cabai nakal itu. Sebab selain membahayakan kesehatan masyarakat, hal itu juga menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat dengan petani cabai lokal.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1