Kental Nuansa Politik, MUI Cilacap Minta Warga Tak Ikut Aksi 313

Hazam mengatakan Aksi 313 tidak bisa dipisahkan dari agenda Pilkada Gubernur DKI Jakarta putaran kedua. Ia menilai aksi 313 justru bisa menimbulkan isu SARA atau sektarian.

Kamis, 30 Mar 2017 20:46 WIB

Ilustrasi. Aksi FPI menolak Ahok pada 14 Oktober 2016 di Jakarta. (Foto: ANTARA)


KBR, Cilacap – Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cilacap Jawa Tengah menilai aksi 313 yang akan digelar pada Jumat (31/3/2017) bermuatan politis. Karena itu MUI Cilacap mengimbau warga Cilacap tidak ikut acara itu ke Jakarta.

Sekretaris MUI Cilacap Hazam Bisri mengatakan jika warga dari daerah ikut Aksi 313 dikhawatirkan akan memperkeruh suasana yang sudah berangsur kondusif.

Hazam mengatakan Aksi 313 tidak bisa dipisahkan dari agenda Pilkada Gubernur DKI Jakarta putaran kedua. Ia menilai aksi 313 justru bisa menimbulkan isu SARA atau sektarian.

"Kemarin saya sudah bertemu dengan Ketua MUI Cilacap KH Nasrulloh, intinya beliau meminta itu tidak terlalu ditanggapi. Nanti bisa menjadi keruh. Karena nuansa politisnya lebih dominan. Kita juga melihat pernyataan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil yang sepertinya juga tidak mendukung gerakan Aksi 313. Justru beliau berharap agar warga NU tidak ikut-ikutan aksi 313," kata Hazam Bisri di Cilacap, Kamis (30/3/2017).

Baca juga:


Hazam mengatakan aksi 313 tidak ada pentingnya, kecuali untuk kepentingan politik. Lantaran tidak terlalu penting itu, maka MUI Cilacap tidak memasukkan Aksi 313 dalam pembahasan resmi di organisasi serta juga tidak mengeluarkan sikap resmi.

Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Banyumas KH Khariri Shofa secara pribadi tidak mempersoalkan warga Banyumas ikut dalam aksi 313 di Jakarta. Namun dia mengakui MUI belum membahas secara resmi perihal aksi 313 tersebut. Itu sebab, MUI Banyumas tak mengeluarkan sikap resmi.

"Kalau saya pribadi, nggak apa-apa. Asal tidak anarkis, menurut saya nggak apa-apa itu. Saya juga tidak terlalu tahu kalau itu ada kaitannya atau tidak dengan pilkada Jakarta," kata Khariri Shofa, Kamis (30/3/2017).

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi