Dua Desa Terisolasi, Bantuan Bencana di 50 Kota Sumbar Gunakan Helikopter

Dua desa, yaitu Desa Koto Tangah dan Desa Gelugur terisolasi akibat jalan yang menghubungkan dua wilayah itu rusak parah akibat banjir dan longsor yang menerjang daerah tersebut, pekan lalu.

Senin, 06 Mar 2017 22:51 WIB

Warga mendorong sepeda motor untuk melintas badan jalan lintas Riau-Sumbar yang tertimbun longsor di Desa Tanjung Balit, Sumatera Barat, Sabtu (4/3/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Banjir yang melanda Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat pada akhir pekan lalu masih menyisakan dua desa yang terisolasi.

Dua desa, yaitu Desa Koto Tangah dan Desa Gelugur terisolasi akibat jalan yang menghubungkan dua wilayah itu rusak parah akibat banjir dan longsor yang menerjang daerah tersebut, pekan lalu.

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota, Nasriyanto mengatakan BPBD tengah berupaya terus melakukan perbaikan jalan. Namun untuk jangka pendek, pemerintah akan terus mengirimkan bantuan logistik menggunakan helikopter.

"Masih ada yang terisolir, masih ada. Hari ini di Kecamatan Kapur Sembilan, di Nagari Koto Tangah dan Gelugur. Keduanya putus (jalur). Itu bukan jalan nasional, tapi dalam kabupaten dan berbatasan dengan Riau. Itu memang jalan tanah, dan terputus tidak bisa lewat," kata Nasriyanto kepada KBR, Senin (6/3/2017).

Baca juga:


Untuk jalanan nasional yang menghubungkan Sumatera Barat dan Riau, tersisa satu titik yang masih rusak, yang ada di desa Ponagari, Tanjung Bali Kecamatan Pangalan. Sedangkan jalur lainnya sudah bisa dilalui.

"Jalan yang putus tinggal satu lagi, ada jalan yang amblas. Hanya bisa dilewati kedaraan roda dua, roda empat bisa yang kecil, tapi itu juga dituntun," katanya.

Banjir di Sumatera Barat terjadi karena hujan deras mengguyur kawasan Kabupaten Lima Puluh Kota, sejak Kamis (2/3/2017) hingga Jumat (3/3/2017). Hujan deras mengakibatkan Sungai Sumpur meluap. Sebanyak delapan kecamatan dan 24 nagari (desa) di Sumatera Barat terdampak langsung oleh banjir dan longsor.

"Data baru memang 24 (desa), kalau kemarin kan 13 (desa). Tapi itu bisa saja bertambah lagi, karena ada lagi desa yang belum terjangkau," ungkapnya.

Saat ini semua pengungsi sudah kembali ke rumah. Upaya pembersihan pasca banjir dan longsor terus dilakukan hingga Selasa (7/3/2017) besok. Sejumlah sekolah diperkirakan baru bisa belajar normal dua hari kedepan.

"Dua hari ini ada pembersihan. Besok ada yang mulai (masuk sekolah). Hari ini juga ada yang mulai sudah bersih-bersih," katanya.

Situasi darurat bencana ditetapkankan di Kabupaten Lima Puluh Kota selama tujuh hari. Status akan berakhir hingga 9 Maret 2017.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!