Desa Dlingo, Bantul: Ikhtiar Jadikan Desa Tertinggal Menjadi Desa Pintar

"Mengejar ketertinggalan," kata Bahrun membeberkan alasannya mengapa ia menggerakkan warga menggunakan teknologi informasi.

Selasa, 28 Mar 2017 21:11 WIB

Kepala Desa Dlingo Bantul, Bahrun Wardoyo (kiri) tengah menjelaskan apa saja yang ia lakukan untuk memajukan desanya dari status desa tertinggal, di Kantor KBR, Selasa (28/3/2017). (Foto: KBR)


KBR, Jakarta - Desa Dlingo terletak terletak di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Lokasinya berjarak 30 menit perjalanan mobil dari Ibukota Kabupaten Bantul ke arah timur.

Desa Dlingo berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul, di pinggiran tenggara Yogyakarta. Wilayahnya lebih mirip Gunungkidul yang tandus dan bebatuan, dibandingkan Bantul yang lebih hijau.

"Kata orang, desa kami ini Bantul rasa Gunungkidul," kata Kepala Desa Dligo, Bahrun Wardoyo.

Bahrun menyempatkan bertandang ke Studio KBR di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/3/2017). Ia bercerita banyak tentang kondisi daerahnya yang masuk kategori terpencil dan tertinggal.

Di Desa Dlingo, warga banyak yang bekerja sebagai petani atau pembuat kerajinan perabotan rumah, terutama pintu.

"Saking tertinggalnya desa ini, jika ada pejabat bersalah atau tidak bekerja dengan baik, ia akan dihukum dengan istilah 'dipindah ke Dlingo' atau 'di-Dlingo-kan'," kata Bahrun kepada Hilbram Dunar dan Adit Insomnia dalam acara KBR Pagi.

Meski banyak kekurangan, keterbatasan dan terpencil, kondisi ini tidak memupus harapan Bahrun dan warganya untuk lebih maju di sektor lain.

Kondisi yang tertinggal membuat Dlingo bertahun-tahun minim sumber daya manusia dan teknologi. Itu yang menggerakkan Bahrun mempelopori masuknya penggunakan teknologi ke Desa Dlingo sebagai program unggulan.

Pada 2012, Bahrun dan warganya mengusung visi "Dlingo Giriloji". Giriloji merupakan singkatan gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah). Visi ini dimaksudkan untuk mengubah Desa Dlingo yang tandus dan gersang menjadi desa maju berbasis teknologi informasi---meski dalam tingkatan yang sederhana.

Desa Dlingo pun mulai membuat situs web, radio komunitas, hingga memasang perangkat WiFi di Balai Desa agar masyarakat bisa mengakses internet.

"Mengejar ketertinggalan," kata Bahrun membeberkan alasannya mengapa ia menggerakkan warga menggunakan teknologi informasi. Teknologi informasi, kata Bahrun, bisa mempercepat kemajuan desa dan meningkatkan melek informasi warga.

"Karena keterbatasan SDM, maka teknologi jadi barang langka di Dlingo. Dulu masyarakat heran, kenapa Pak Kades pasang WiFi? Tapi lama-lama mereka mengerti, bahwa jika desa ingin berubah dan maju, maka harus melek teknologi. Akhirnya, kini warga kami bangga 'Wah keren sekarang Desa Dlingo'," kata Bahrun.

Berkat penerapan teknologi pula, kata Bahrun, kini sistem pelayanan di desa juga lebih cepat. Selain ada layanan fotokopi gratis, warga juga bisa nongkrong di Balai Desa sembari mengakses internet lewat WiFi gratis, hingga warga memiliki sendiri Radio Komunitas "Sandigita".

"Siaran pagi di radio itu tentang kegiatan desa dan juga rikues lagu-lagu campursari dari pendengar. Biar fresh," kata Bahrun.

Kini Bahrun tengah mengusahakan agar Radio Komunitas "Sandigita" di Desa Dlingo bisa merelay program-program siaran radio dari KBR untuk menyuplai berita dan informasi bagi warga.

Ia pun berharap seluruh desa di Indonesia bisa melek teknologi. Apalagi kini desa punya otonomi untuk mengatur dirinya sendiri, menggunakan kekayaan alam---termasuk bantuan Dana Desa.

"Sekarang kami memiliki impian untuk menjadi 'the smart culture village'. Kami ingin membangkitkan desa kami ini, dengan warna desa tapi cara berpikir kota," kata Bahrun.

Dan itulah yang sedang dikerjakan Bahrun bersama warga, termasuk mengelola situs dlingo-bantul.desa.id guna memajukan desa yang sudah berusia 103 tahun itu. Termasuk meningkatkan pengunjung situs internet mereka yang saat ini mencapai 2000 hingga 3000 pengunjung per hari, baik dari warga desa maupun dari luar desa. Meskipun kadang-kadang situsnya down karena keterbatasan infrastruktur.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR