Bergaji 12 Juta, Pemkab Nunukan Pecat Guru Malas di Perbatasan

"Setahun lebih tidak pernah masuk kelas. Jangankan setahun, dua tiga bulan tidak mengajar saja kita berhentikan," kata Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Jaya Martom.

Kamis, 30 Mar 2017 22:20 WIB

Salah satu sekolah di wilayah perbatasan Desa Sekapal, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Selain kekurangan guru juga kekurangan fasilitas belajar mengajar. (Foto: Adhima Soekotjo/KBR)


KBR, Nunukan – Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara memecat tiga orang guru yang malas mengajar.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Jaya Martom mengatakan guru yang dipecat itu tidak pernah mengajar di daerah penugasan di perbatasan selama hampir setahun. Selain itu ada seorang guru PNS lainnya yang masih dalam pemberhentian.

"Berdasarkan laporan dari masyarakat, ditandatangani semua kepala desa dan UPTD, memang mereka ini tidak pernah mengajar, dan karena itu tetap diberhentikan. Setahun lebih tidak pernah masuk kelas. Jangankan setahun, dua tiga bulan tidak mengajar saja kita berhentikan," kata Jaya Martom di Nunukan, Kamis (30/3/2017).

Jaya Martom mengatakan tidak ada alasan bagi guru di wilayah perbatasan bermalas-malasan mengajar, karena mereka sudah mendapat gaji dan tunjangan yang cukup besar. Seorang guru di perbatasan Kabupaten Nunukan bisa menerima gaji dan tunjangan lebih dari Rp12 juta rupiah perbulan.

"Gajinya kalau umpamanya Rp3 juta, berarti tunjangan sertifikasinya juga Rp3 juta. Belum kalau dia dapat tunjangan perbatasan Rp3 juta juga. Belum lagi tambahan penghasilan atau tamsil yang Rp500 ribu, belum lain-lainnya. Apalagi yang membuatnya malas?" tambah Jaya Martom.

Kabupaten Nunukan saaat ini memiliki hampir 4,000 guru. Meski begitu banyak guru tidak mau ditempatkan di wilayah terpencil. Hal ini membuat beberapa sekolah di wilayah terpencil perbatasan kekurangan guru. Bahkan sekolah di tempat terpencil perbatasan ada yang hanya memiliki seorang atau dua orang guru saja, sementara sekolah di Kota Nunukan kelebihan guru.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Jumlah Napi Narkoba Kian Bertambah, Menteri Yasonna Akui Kewalahan

  • Erupsi Gunung Sinabung Abu Vulkanik Capai 3,2 KM
  • Uni Eropa Ajak Suu Kyi Negosiasi soal Rohingya
  • Marquez Diisukan Gantikan Rossi di Yamaha

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau