Beras Bantuan untuk Korban Banjir di Kotawaringin Barat Kalteng Berkutu dan Bau Tidak Seda

Pihak Bulog Pangkalan Bun memperkirakan beras itu kemungkinan menjadi bau dan berkutu karena proses penyimpanan yang salah di posko bencana.

Senin, 13 Mar 2017 23:07 WIB

Anggota DPR asal Kalteng Hamdhani saat menunjukkan beras bantuan korban banjir yang tak layak konsumsi kepada petugas BPBD Kotawaringin Barat. (Foto: Alex Gunawan/KBR)


KBR, Pangkalan Bun - Pengiriman bantuan beras untuk warga korban banjir di Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Beras bantuan itu berbau tidak sedap dan banyak mengandung kutu.

Bahkan, anggota DPR asal Kalimantan Tengah, Hamdhani yang sedang mengunjung korban banjir meminta Bulog menarik beras bantuan itu dan menggantinya dengan beras yang layak konsumsi.

Mendapat protes itu, Kepala Bulog Sub Divisi Regional Pangkalan Bun Muhammad Soleh membantah jika beras yang dikirim tak layak konsumsi. Soleh mengklaim beras itu sudah dicek dan dalam kondisi bagus saat keluar dari gudang Bulog.

Soleh mengatakan beras itu kemungkinan menjadi bau dan berkutu karena proses penyimpanan yang salah di posko bencana.

"Karena (beras) disimpan terlalu lama di lantai, langsung di lantai, maka itu menjadi lembab. Kedua, karena tempatnya tidak layak ya tidak bagus untuk menyimpan beras, bocor gitu (kena) titik-titik air. Jadi penyebabnya banyak," kata Soleh.

Soleh menambahkan Bulog sudah mengirim tim untuk memeriksa ruang penyimpanan posko bencana banjir di Kecamatan Arut Utara. Terlepas dari siapa yang salah, Soleh mengatakan Bulog tetap akan mengganti jika memang ditemukan beras yang tidak layak konsumsi.

Banjir melanda wilayah Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat pada pekan kedua bulan Maret 2017. Setidaknya ada hampir seribu rumah terendam banjir dengan total korban terdampak banjir mencapai lebih dari dua ribu orang. Sebagian banjir belum surut, dan dampaknya masih terlihat hingga sepekan kemudian.

Baca: Bencana Banjir Kabupaten Kobar, Ketinggian 2 Meter Sebabkan Desa Sukarami Terisolir    

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Ombudsman Sebut Ada Indikasi Maladministrasi Dalam Kecelakaan Kerja Konstruksi

  • KPU Tegaskan Akan Berikan Sanksi Bagi Parpol yang Pakai Gambar Presiden
  • Petani Garam Jatim Akan Layangkan Surat Protes ke Jokowi

Di Indonesia jumlah penduduknya adalah 250 juta penduduk dengan investor atau investasi di pasar modal adalah 1 juta orang saja yang berinvestasi.