Banjir di Bima NTB, Belasan Hektar Padi Alami Puso

Di Kota Bima saja terdapat 77 hektar lahan pertanian terendam terendam banjir, dan 15 hektar tanaman padi diantaranya menjadi puso.

Kamis, 30 Mar 2017 20:28 WIB

Warga bersama anggota TNI membersihkan jalan-jalan dari lumpur sisa banjir di Kota Bima NTB, Senin (27/3/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Mataram - Banjir yang terjadi di Kota dan Kabupaten Bima, Nusa Tengara Barat pada Minggu (26/3/2017) lalu berdampak besar pada lahan pertanian di daerah tersebut.

Di Kota Bima saja terdapat 77 hektar lahan pertanian terendam terendam banjir, dan 15 hektar tanaman padi diantaranya menjadi puso. Sementara data dari Kabupaten Bima belum masuk ke pemerintah NTB.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat Husnul Fauzi Kamis (30/3) mengatakan, karena padi yang mengalami puso di Kota Bima sudah mulai masuk waktu panen maka pemerintah akan memberikan ganti rugi sebesar Rp3 juta per hektar.

Namun ada juga sebagian petani yang masuk dalam Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), sehingga nantinya mereka bisa mendapatkan ganti rugi dari PT Jasindo sebesar Rp6 juta per hektar.

"Saya akan koordinasikan dengan Jasindo. Proses sekarang masih berlangsung," kata Husnul Fauzi, Kamis (30/3/2017).

Husnul Fauzi mengatakan saat ini penggantian lahan pertanian yang terkena puso akibat banjir di Bima masih dalam proses.

Husnul menambahkan ia sudah menerima laporan lengkap dampak banjir dari Kota Bima. Sedangkan dampak banjir terhadap lahan pertanian di Kabupaten Bima belum masuk.

Informasi dari BPBD Provinsi NTB menyebutkan jumlah warga yang terdampak banjir di Bima mencapai lebih dari 22 ribu orang. Pada saat kejadian, ada dua ribu lebih warga mengungsi ke masjid dan rumah kerabat terdekat.

Selain merendam permukiman warga, banjir juga merendam fasilitas umum dan lahan-lahan pertanian padi yang akan segera masuk musim panen.

Hujan deras yang mengguyur Kota Bima sejak Minggu (26/3/2017) menyebabkan banjir di 22 kelurahan dari lima kecamatan di Kota Bima.

Kota Bima di NTB beberapa kali dilanda banjir. Sebelumnya, wilayah ini dua kali banjir bandang besar pada Desember 2016. Banjir menyebabkan berbagai infrastruktur rusak, termasuk terganggunya saluran listrik.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Jumlah Napi Narkoba Kian Bertambah, Menteri Yasonna Akui Kewalahan

  • Erupsi Gunung Sinabung Abu Vulkanik Capai 3,2 KM
  • Uni Eropa Ajak Suu Kyi Negosiasi soal Rohingya
  • Marquez Diisukan Gantikan Rossi di Yamaha

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau