Ribetnya Anak Korban Longsor Belajar Jelang UN

Puluhan siswa itu kesulitan belajar karena sudah hampir dua bulan mengungsi ke tetangga atau saudara yang lebih aman. Di pengungsian, mereka tidak bisa konsentrasi belajar.

Kamis, 02 Mar 2017 15:35 WIB

Anak-anak sekolah di Cilacap yang mengungsi karena ancaman longsor di Dusun Jatiluhur, Desa Padangjaya, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: M Ridlo/KBR)


KBR, Cilacap – Puluhan anak sekolah di zona longsor Dusun Jatiluhur, Desa Padangjaya Kecamatan Majenang, Cilacap kesulitan belajar di pengungsian. Padahal, beberapa diantaranya tengah bersiap menghadapi Ujian Nasional (UN) 2017.

Kepala Dusun Jatiluhur Tarsono mengatakan saat ini ada 102 orang pengungsi yang meninggalkan rumah mereka yang terancam longsor. Dari jumlah itu, 26 orang diantaranya merupakan siswa SD, SLTP dan SLTA.

Tarsono mengatakan puluhan siswa itu kesulitan belajar karena sudah hampir dua bulan mengungsi ke tetangga atau saudara yang lebih aman. Di pengungsian, mereka tidak bisa konsentrasi belajar.

Dari puluhan siswa itu, empat orang diantaranya sedang bersiap menghadapi UN 2017, terdiri dari tiga anak kelas 6 SD dan satu kelas 12 SLTA. Tarsono menyebut, Senin pekan depan (6/3/2017), empat anak tersebut menghadapi try out atau simulasi pra-Ujian Nasional.

Selain tidak bisa berkonsentrasi belajar di pengungsian, para siswa juga kerap terganggu dengan pemadaman listrik dari PLN. PLN hampir selalu memutus aliran listrik ke Dusun Jatiluhur jika terjadi hujan lebat.

Saluran listrik dipadamkan karena melewati zona longsor yang selama ini sudah menyebabkan 24 rumah hancur dan tak bisa lagi ditempati. Akibatnya, seringkali anak-anak terpaksa belajar dengan penerangan lampu senter.

"Terganggunya, ya mungkin karena untuk belajar, lagi enak belajar hujan datang. Kemudian harus lari ke tempat uwa/pakdhe-nya. Terus di sana kadang-kadang (lampu) redup, jadi belajar pakai senter. Kadang mati lampu, begitu. Tanggal 6 Maret kan berarti Minggu besok, itu try out-nya (UN) ya, Senin. Kalau untuk SD (yang menghadapi UN) ada tiga anak, kalau SMA ada satu, namanya Cindy," kata Tarsono, Rabu sore (2/3/2017).

Baca juga:


Tarsono mengatakan, sepintas lalu, anak-anak kelihatan tak terpengaruh dengan bencana longsor atau gerakan tanah yang terjadi bertahap sejak Desember 2016 lalu. Dia hanya menyebut, anak-anak kesulitan berkonsentrasi belajar karena sudah lama tinggal di pengungsian.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Muhadi mengatakan selain 26 anak sekolah, terdapat pula 10 balita, tiga ibu hamil dan dua manusia lanjut usia (manula) di Dusun Jatiluhur.

Tiga kelompok rentan ini, menurut Muhadi, menjadi prioritas perhatian BPBD dalam menghadapi bencana yang berkepanjangan.

Khusus anak yang sudah bersekolah, Muhadi sudah meminta Dinas Pendidikan Cilacap, terutama guru, yang berhubungan langsung dengan anak-anak pengungsi untuk memotivasi dan memberi dorongan mental supaya anak-anak tetap bisa belajar dan bersemangat menempuh pendidikan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

JK: Pertemuan SBY-Mega Tenangkan Situasi Politik Nasional

  • Air Baku Terbatas, Balikpapan Hanya Kebagian 813 Program Pemasangan Baru PDAM
  • Kloop Tegaskan Tak Punya Alasan Menjual Coutinho

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR