Penyerangan Gereja di Yogya, Polisi: Pelaku Belum Stabil

"Kondisinya sekarang belum stabil. Kita berharap mendapatkan perawatan intensif sehingga bisa diinterogasi mendalam,"

Senin, 12 Feb 2018 10:06 WIB

Petugas kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus penyerangan di Gereja Katholik St. Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (11/2). (Sumber: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Yogyakarta-  Kepolisian menyatakan belum menginterogasi Suliono, pelaku penyerangan   Gereja Katolik Santa Lidwina Bedog Trihanggo Gamping Sleman Yogyakarta. Kapolda DIY Ahmad Dofiri  kondisi medis pelaku labil sehingga belum bisa diinterogasi.

Setelah membacok beberapa umat dan pastor serta seorang anggota polisi, pelaku yang bernama Suliono  dilumpuhkan polisi dengan dua tembakan. Saat ini pelaku menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Yogyakarta.

"Kondisinya sekarang belum stabil. Kita berharap mendapatkan perawatan intensif sehingga bisa diinterogasi mendalam," kata Ahmad Dofiri di lokasi insiden penyerangan, Minggu sore (11/02/2018).

Keterangan pelaku sangat dibutuhkan polisi untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya sekaligus motif penyerangan. Sejauh ini, polisi telah menyita sebilah pedang dan ijazah yang ditemukan di tas pelaku. Berdasarkan keterangan pada identitas pelaku, polisi menduga pelaku berstatus mahasiswa.

"Status tersangka dari Identitasnya dia mahasiswa," ujar Kapolda.

Kapolda DIY Ahmad Dofiri menerangkan, penyelidikan sementara menunjukkan pelaku bekerja sendiri. Pada saat peristiwa terjadi sekitar pukul 07.30 WIB, pelaku memasuki gereja dan menyerang umat. Pelaku terus mendekati pastor Romo Karl Edmund Prier SJ yang tengah memimpin ibadah dan membacoknya. Seorang petugas kepolisian yang datang dan berusaha bernegosiasi tak luput dari sabetan pedang, meski akhirnya berhasil menembak pelaku.

"Apakah ada pelaku lain masih simpang siur. Yang jelas pelaku langsung satu orang yang bawa samurai itu," jelas Ahmad Dofiri.

Ahmad Dofiri menilai tindakan nekad pelaku biadab dan patut dikutuk. Dofiri berharap kondisi medis pelaku membaik sehingga bisa segera dimintai keterangan. Dirinya enggan menanggapi dugaan pelaku tersangkut jaringan terorisme.

"Tapi sekali lagi kondisi belum stabil. Beri kesempatan pada kami untuk mengusut kasus ini dengan menyeluruh dan mendalam. Kita tidak bisa mengaitkan kejadian. Latar belakang keterkaitan dengan jaringan apa juga belum tahu," ucapnya.

Sementara itu Wakil Ketua organisasi hak asasi manusia Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos menyebut penyerangan terhadap Gereja Santa Lidwina, Yogyakarta, merupakan serangan terhadap kebebasan beragama.  Bonar menduga peristiwa penyerangan itu ada kaitannya dengan penyerangan terhadap pemuka agama lain yang terjadi dua minggu belakangan.

"Kita mendua ini ada kaitannya dengan serangan sebelumnya kepada sejumlah tokoh agama, dan pelarangan biksu Budha di daerah Tangerang. Ini menunjukkan intoleransi, kurangnya penghargaan perbedaan keyakinan. Ini perlu disikapi serius oleh aparat keamanan," kata Bonar saat dihubungi KBR, Minggu (11/2).

Menurut dia, isu agama kerap digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi, politik, maupun sosial. Pantauan Setara Institute sejak 2008, angka kasus kekerasan terhadap kebebasan beragama memang fluktuatif dari tahun ke tahun. Namun menurut Tigor, ada kecenderungan peningkatan terjadi ketika situasi politik tengah memanas.

"Ada dugaan memang aksi intoleransi ini berkaitan dengan perebutan kuasa politik di satu tempat. Dan memang menjelang tahun politik, pilkada, ada kecenderungan meningkat aksi intoleransi."

Sebelum peristiwa penyerangan Gereja Santa Lidwina Minggu(11/2), sebuah video viral di media sosial. Video tersebut menggambarkan pengusiran seorang biksu bernama Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Legok, Tangerang. Satu minggu sebelumnya, penganiayaan juga terjadi kepada pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka Bandung, Umar Basri. Selain itu, salah satu pengurus pusat Persis, Prawoto juga dianiaya hingga tewas.

Empat kasus ini menurut Jaringan Gusdurian pun tidak berdiri sendiri. Ada satu pola yang sama yakni korbannya yang mengincar pemuka agama. Menurut Jaringan Gusdurian dalam keterangan pers mereka, situasi itu harus diwaspadai. Mereka mendesak Kepolisian Republik Indonesia menindak tegas pelaku aksi intoleransi dan mencari otak di balik peningkatan kekerasan itu.

Editor: Rony Sitanggang


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.