Penyerangan Gereja di Yogya, Pelaku Disebut Anti-NU

“Setelah SMP ini mulai ada perubahan, tapi ceritanya kakak–kakaknya sangat anti dengan paham NU ini sejak SMP kelas 3."

Senin, 12 Feb 2018 12:00 WIB

Kondisi gereja Lidwina, Sleman Yogyakarta pasca penyerangan pada Minggu (11/2). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banyuwangi- Pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta pada hari Minggu pagi (11/2/2018)   bernama Suliono Warga Desa Kandangan Banyuwangi Jawa Timur, kerap berpindah tempat tinggal. Menurut Kepala  Desa Kandangan Banyuwangi Riyono, sejak menyelesaikan pendidikan di  sekolah menengah pertama (SMP) pada  2010 lalu, Suliyono  pergi ke Sulawesi Tengah untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMA.

Setelah tamat SMA, Suliyono  meneruskan pendidikan  di Pondok Pesantren  Berpayaman II Magelang Jawa Tengah. Kata Riyono, selama merantau di luar kota Suliyono sempat beberapa kali pulang ke Banyuwangi.

Kata dia   perilakunya berubah, bahkan sempat mengajak masyarakat sekitar  ikut aliran yang dia ikuti dengan tujuan berjihad.

“Setelah SMP ini mulai ada perubahan, tapi ceritanya kakak–kakaknya   sangat anti dengan faham NU ini sejak SMP kelas 3. Akhirnya setelah tamat SMP itu ke pondok pak kiai Maskur Ali di sana hanya betah 6 bulan. Setelah itu karena punya kakak 1 dan 2 ini Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Morowali Akhirnya pindah ke sana,” kata Riyono hari ini Senin (12/02) di Banyuwangi.

Baca: Pelaku Belum Stabil

Kepala  Desa  Riyono membenarkan bahwa Suliyono masih tercatat sebagai warga Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Seberapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap koperasi di Indonesia saat ini?