Pemprov Jabar Tetapkan Status Siaga 1 Bencana Banjir dan Longsor

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan meminta agar masyarakat selalu waspada terhadap bencana banjir dan longsor, khususnya di daerah-daerah rawan bencana seperti Bogor, Cianjur, Bandung dan Garut.

Selasa, 06 Feb 2018 21:30 WIB

Tim gabungan mengevakuasi korban longsor di Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018). (Foto: KBR/Teddy Irwansyah)

KBR, Bogor - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan menyatakan status Siaga 1 Bencana Longsor dan Banjir di Jawa Barat.

Status Siaga 1 berlaku mulai Selasa, 6 Februari hingga 31 Mei 2018.

"Kepala BNPB sudah menyatakan dukungan untuk mitigasi bencana yang terjadi di Jawa Barat, khususnya di kawasan Bogor, untuk status Siaga 1 banjir dan longsor. Siaga darurat ini akan sampai pada 31 Mei nanti," kata Ahmad Heriawan di lokasi bencana longsor Puncak, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018).

Aher, sapaan Ahmad Heriawan, meminta agar masyarakat selalu waspada terhadap bencana banjir dan longsor, khususnya di daerah-daerah rawan bencana seperti Bogor, Cianjur, Bandung dan Garut.

"Kami minta masyarakat selalu waspada, hindari tempat rawan bencana. Titik bencana berada di banyak tempat," kata Aher.

Menurut Aher, Cianjur dan Garut merupakan daerah paling rawan dari bencana banjir dan longsor. Sebab kontur tanah yang labil masih sangat mudah longsor dan gempa bumi.

"Paling rawan itu Garut dan Cianjur karena memang seperti itu. Jabar hadir sebagai bumi dengan vulkanik muda, subur tapi rawan longsor. Maka harus kita sadari bahwa secara kultur tanah memang rawan longsor. Termasuk gempa. Itu yang harus disadari masyarakat dan perlu diwaspadai," kata Aher.

Ke depan, kata Aher, pemerintah Jawa Barat akan terus melakukam perbaikan lingkungan seperti penghijauan di beberapa tempat.

"Antara perbaikan lingkungan dengan penghijauan akan jalan terus. Kawasan selatan Bandung, hulu Sungai Cisanti, Sungai Citarum akan kita lakukan penghijauan. Termasuk normalisasi kawasan hutan di wilayah Puncak," tambah Aher.


Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan di lokasi longsor di Puncak, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018). (Foto: KBR/Teddy Irwansyah)

Baca juga:

Lima tewas

Selama dua hari terakhir, wilayah Bogor diguyur hujan, hingga menyebabkan puluhan titik terendam banjir dan bencana longsor. Termasuk di kawasan Puncak dan Cijeruk.

Dalam longsor Puncak dan Cijeruk, sebanyak lima orang ditemukan tewas dan belasan orang lain mengalami luka-luka. Sedangkan beberapa orang masih belum ditemukan di timbunan longsor.

Wakil Kapolda Jawa Barat Supratman mengatakan, sejumlah korban longsor di Puncak masih belum dapat ditemukan. Namun, untuk korban longsor di Kecamatan Cijeruk berhasil ditemukan.

"Untuk di Puncak, masih tiga orang belum ditemukan. Di Cijeruk dari lima korban, tinggal satu orang yang belum ditemukan," kata Supratman di lokasi longsor Riung Guning, Selasa (6/2/2018) petang.

Sebanyak empat orang korban yang telah ditemukan pada timbunan longsor di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor Jawa Barat merupakan satu keluarga. Mereka ialah Alan Maulana Yusuf (17), Nani (30), Aurel (2) dan Aldi (9). 

Sedangkan, satu orang korban atas nama Lilis Binti Hidayat (40), di longsor Puncak telah ditemukan pada Senin (5/2/2018). Satu orang dalam kondisi kritis, dan empat orang luka-luka. Beberapa diantaranya masih belum ditemukan. 

Wakapolda Jawa Barat Supratman mengatakan hingga beberapa hari ke depan, proses evakuasi longsor dan pencarian korban di Puncak dan Cijeruk masih terus akan dilakukan oleh petugas gabungan. 

Sementara lalu lintas di jalur Puncak sendiri akan ditutup hingga 10 hari kedepan.


Longsor di jalur kereta api di kampung Masseng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: KBR/Teddy Irwansyah)

Editor: Agus Luqman 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi tantangan bersama bagi gerakan koperasi di era milenium.