Dinkes: Kasus Gizi Buruk di Kota Malang Tak Hanya Karena Kekurangan Pangan

"Saat ini kan ibu–ibu banyak yang bekerja, sehingga anak dititipkan ke nenek. Pengetahuan nenek yang kurang bisa jadi penyebab. Di sisi lain, karena ibu bekerja jadi bayi tak mendapat ASI eksklusif."

Jumat, 09 Feb 2018 20:55 WIB

Ilustrasi. Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada anak untuk mencegah gizi buruk. (Foto: jipp.jatimprov.go.id/Publik Domain)

KBR, Malang – Dinas Kesehatan Kota Malang, Jawa Timur, menyebut kasus gizi buruk di wilayah itu tak hanya disebabkan masalah kekurangan pangan. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Asih Tri Rachmi Nuswantari mengatakan pola asuh yang salah dan ibu bekerja yang tak bisa memberikan air susu ibu (ASI) juga berpotensi menyebabkan balita dalam kondisi gizi buruk.

Dinas Kesehatan mengklaim sebetulnya kasus balita dengan gizi buruk di Kota Malang turun setiap tahunnya. Pada 2017 lalu terdapat kasus 50 balita dengan gizi buruk. Jumlah itu lebih rendah dibanding 2016 dimana terdapat 66 kasus balita gizi buruk, dan 111 kasus gizi buruk di tahun 2015.

"Jadi permasalahannya kompleks, bukan hanya masalah kesehatan saja. Bisa saja karena kemiskinan, karena tak bisa membeli makanan," kata Asih Tri Rachmi Nuswantari, di Malang, Jumat (9/2/2018).

"Tapi bisa juga karena salah asuh. Saat ini kan ibu–ibu banyak yang bekerja, sehingga anak dititipkan ke nenek. Pengetahuan nenek yang kurang bisa jadi penyebab. Di sisi lain, karena ibu bekerja jadi bayi tak mendapat ASI eksklusif. Sulit untuk memutus mata rantai ini," tambah Asih.

Baca juga:

Nenek yang mengasuh anak tanpa pengetahuan memadai, kata Asih Tri Rachmi, dikhawatirkan memberikan jenis makanan yang belum saatnya dikonsumsi anak. 

Sedangkan ibu harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Padahal pemberian ASI eksklusif bisa menekan pengeluaran membeli susu bayi.

Agar pertumbuhan baik secara fisik dan intelejensia, kata Asih, balita harus mendapat ASI eksklusif sejak hari pertama lahir berlanjut selama 1.000 hari kemudian. Atau pemberian ASI tidak terputus selama enam bulan pasca kelahiran. Namun, ibu yang bekerja umumnya hanya mendapat jatah cuti selama tiga bulan.

Dinas Kesehatan Kota Malang pun bekerjasama dengan perguruan tinggi ilmu kesehatan. Kerjasama itu untuk mendorong agar mahasiswa ilmu kesehatan turun ke masyarakat memberikan pengetahuan tentang gizi, guna menekan kasus balita dengan gizi buruk.

"Turun langsung menjadikan masyarakat sebagai laboratorium, memberikan pengetahuan ke nenek yang merawat bayi," tutur Asih.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

Divonis 15 Tahun Penjara, Setnov: Saya Shock Sekali

  • Status Setya Novanto di DPR akan Dibahas setelah Masa Reses
  • Namanya Masih Disebut di Survei Cawapres, JK: Saya Ingin Istirahat
  • Puluhan Warga Lhokseumawe Terjaring Razia Busana

Setiap individu itu unik, mereka memiliki kesukaan masing-masing, termasuk dalam bekerja. Kebanyakan orang ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan passion dan motivasi mereka masing-masing.