75 Ribu Ton Garam dari Sumenep Tak Terserap Pasar

Seorang petani, Candra mengatakan jumlah garam yang belum terserap ke pasar pada tahun 2017 mencapai 75 ribu ton. Sampai saat ini, harga garam terus merosot hingga Rp2 ribu per kilogram.

Senin, 05 Feb 2018 19:08 WIB

Ilustrasi petani garam. (Foto: setkab.go.id/Publik Domain)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Surabaya - Kalangan petani garam asal Kabupaten Sumenep di Pulau Madura, Jawa Timur mulai kesulitan menjual garam produksi mereka ke pasaran. 

Selain harga garam yang anjlok, perusahaan di Jawa Timur juga enggan menyerap garam yang sudah diproduksi pada 2017 lalu.

"Kalau dulu biasanya langsung dijual ke perusahaan Susanti, tapi sekarang tidak mau. Perusahaannya buka tetapi gudangnya tutup," kata Candra, salah seorang petani asal Kecamatan Kalianget, Sumenep saat mendatangi kantor Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Senin (5/2/2018).

Candra mengatakan jumlah garam yang belum terserap ke pasar pada tahun 2017 mencapai 75 ribu ton. Sampai saat ini, harga garam terus merosot hingga Rp2 ribu per kilogram. 

"Pada tahun 2017 yang belum terserap mencapai 75 ribu ton," kata Candra.

Candra mengatakan, punya 30 hektare lahan garam dan sekarang tidak ditanami lagi. Ia mengatakan harga garam sudah tidak menutupi bila dibandingkan dengan biaya operasional dan ongkos pekerja. 

"Kami belum tahu akan meneruskan menanam atau tidak. Karena sekarang harganya sangat rendah dan kami merugi," tambahnya. 

Candra berharap Pemprov Jatim meninjau ulang izin bongkar garam di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

"Kami berharap impor garam dihentikan. Kalau tidak harga garam lokal bisa hancur," tandasnya. 

Baca juga:

Kepala Dinas Kelainan dan Perikanan Heru Tjahjono mengatakan, pada tahun 2018 pemerintah daerah akan mengeluarkan kebijakan meningkatkan mutu garam petani. Di antaranya dengan memberi bantuan geomembran dan rumah garam. 

"Kami akan menggelontor program yang bisa meningkatkan kualitas garam petani. Ini untuk menambah target garam petani yang layak konsumsi industri meningkat menjadi 50 persen," kata Heru Tjahjono ketika dikonfirmasi. 

Heru mengatakan kualitas garam petani lokal sebenarnya sudah standar import. Bahkan, kandungan NaCL mencapai 97,8 persen, sehingga layak menjadi konsumsi industri. Namun ia tidak bisa menjelaskan mengapa garam petani tidak terserap pasar.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.