Nelayan Kecil di Perbatasan Nunukan Dapat Konverter Gas untuk Perahu

Konverter gas itu nanti digunakan untuk mengubah energi dari gas elpiji menjadi tenaga penggerak mesin perahu.

Selasa, 21 Feb 2017 12:49 WIB

Ilustrasi salah satu kapal nelayan di Sebatik Nunukan Kaltara. (Foto: Adhima Soekotjo/KBR)


KBR, Nunukan – Sekitar seratus nelayan kecil di wilayah perbatasan Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara akan menerima masing-masing alat konverter gas untuk mesin tempel perahu mereka.

Konverter gas itu nanti digunakan untuk mengubah energi dari gas elpiji menjadi tenaga penggerak mesin perahu. Gas elpiji nanti menggantikan solar yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan perahu.

Program bantuan mesin konverter gas itu berasal dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. Rencananya pembagian konverter gas untuk perahu akan dilakukan akhir Februari ini.

Anggota Komisi VII DPR Ari Yusnita mengatakan dari sekitar 500 konverter gas untuk se-Provinsi Kalimantan Utara, sekitar seratus unit konverter akan dibagikan kepada nelayan kecil yang hanya memiliki perahu dengan bobot di bawah 5 gross tonase (GT).

"(Syaratnya) ada nomor nelayannya, mesinnya di bawah 5 GT, ada KTP, NIK dan harus punya perahu sendiri," kata Ari yusnita di Nunukan, Selasa (21/2/2017).

Baca: KKP Klaim Uji Coba Konversi BBM ke Gas Untuk Nelayan Berhasil   

Ari Yusnita mengatakan dengan konverter gas itu maka nelayan kecil diharapkan bisa menekan ongkos pengeluaran BBM. Selain mampu menekan baiaya BBM, dengan menggunakan bahan bakar gas, maka perahu nelayan menjadi ramah lingkungan.

Kementerian ESDM juga membagikan 45 unit penerangan jalan umum (PJU) menggunakan tenaga surya di wilayah perbatasan. Penggunaan PLTS di Kecamatan Sebatik merupakan salah satu solusi terhadap krisis listrik yang saat ini masih dialami warga Sebatik.

"PJU itu sekitar 45 ada yang di tempat umum ada yang di jalan. Kalau malam kan bisa digunakan masyarakat. Ini termasuk energi baru terbarukan," kata Ari Yusnita.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.