Mati Listrik 24 Jam, Cuci Darah di RSUD Curup Bengkulu Dilakukan Manual

Untuk mengoperasikan genset, RSUD harus menyediakan bahan bakar, berupa 50 liter solar untuk tiap satu jam pengoperasian genset.

Kamis, 16 Feb 2017 15:08 WIB

Antrean warga di lobi RSUD Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. (Foto: Muh Anthoni/KBR)


KBR, Rejang Lebong - Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu tidak maksimal karena gangguan listik.

Aliran listrik di RSUD Curup matisejak Rabu (15/2/2017) hingga hari ini. Warga pun mengadu ke DPRD terkait tergangguna pelayanan di RSUD itu.

"Hari ini kita sidak (inspeksi mendadak) ke Rumah Sakit, karena ada laporan masyarakat yang mengeluhkan pelayanan di rumah sakit tidak maksimal karena pemadaman listrik sejak Rabu (2/15) kemaren," kata Anggota Komisi I DPRD Rejang Lebong Rudi Nasution saat sidak di RSUD Curup, Kamis (16/2/2017).

Dari pantauan anggota DPRD, beberapa unit pelayanan kesehatan mengalami kendala seperti pelayanan untuk unit cuci darah.

"Kita sudah melihat pelayanan di unit cuci darah. Akibat pemadaman listrik ini ada keterbatasan, menurut petugas. Ada prosedur-prosedur cuci darah tersebut terpaksa dilakukan manual," kata Rudi.

Seksi Pelayanan Medis RSUD Curup Yandarwin mengatakan, saat ini RSUD Curup menggunakan genset pembangkit listrik berkapasitas 35.000 watt. Namun tidak menutup kemungkinan pelayanan tetap terganggu.

"Meskipun genset kita sudah otomatis tetapi ketika mengisi minyak tentu genset mesti dipadamkan terlebih dahulu. Nah disitu kendalanya," kata Yandarwin.

Yandarwin mengatakan akibat pemadaman listrik itu dana operasional RSUD membengkak. Untuk mengoperasikan genset itu, RSUD harus menyediakan bahan bakar, berupa 50 liter solar untuk tiap satu jam pengoperasian genset.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan