Ginjal TKW Dicuri Majikan di Qatar, Pemerintah Diminta Usut Tuntas

"Tugas Dinas Tenaga Kerja kita untuk komunikasi dengan pemerintah pusat untuk mencari solusi terbaik dengan pemerintah Qatar."

Senin, 27 Feb 2017 16:20 WIB

Sri Rabitah menunjukkan hasil rontgen yang memperlihatkan ginjalnya hilang satu. (Foto: Istimewa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Mataram-  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Barat (NTB)  meminta agar pemerintah mengusut kasus yang menimpa Sri Rabitah, eks Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Lombok Utara yang mengaku ginjalnya hilang saat dilakukan operasi di Qatar. Sri  bekerja di sana  2014 lalu. Ginjal sebelah kanan Sri Rabitah diganti dengan selang plastik dalam operasi singkat yang dilakukan oleh dokter atas permintaan majikannya.

Anggota Komisi V Bidang Tenaga Kerja DPRD NTB, Sabirin, berencana  mengunjungi korban untuk selanjutnya berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Termasuk berkomunikasi dengan RSUP NTB yang menjadi tempat korban dirawat.

“Kami bersama pimpinan komisi untuk sama-sama bersikap dengan lembaga terkait di NTB, juga sebagai bentuk perhatian awal kepada mereka. Setelah pertemuan dengan keluarga di sana tentu kita akan tindaklanjuti dengan RSUP yang mengetahui dari awal tentang kesehatannya," ujar Anggota Komisi V Bidang Tenaga Kerja DPRD NTB, Sabirin, Senin (27/02).  

Sabirin melanjutkan, "bagaimanapun ini adalah rangkaian tugas, tidak lepas dengan tugas Dinas Tenaga Kerja kita untuk komunikasi dengan pemerintah pusat untuk mencari solusi terbaik dengan pemerintah Qatar."

Sabirin juga meminta dilakukan upaya preventif guna mencegah kasus serupa menimpa TKI atau TKW di luar negeri. Perlindungan terhadap pahlawan devisa tersebut jangan sampai kendor, sehingga pemerintah daerah dan pusat diminta melakukan upaya yang maksimal.

Sri Rabitah (25 tahun) warga Dusun  Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan Lombok Utara  berangkat bekerja pada 27 Juni  2014 lalu. Setelah satu minggu di rumah majikan di Doha, Sri dibawa  ke pemeriksaan kesehatan karena dianggap lemah. Dengan alasan untuk kesehatan, Sri  dibawa ke ruang operasi lantas  disuntik hingga tak sadarkan diri.

Seminggu kemudian korban dikembalikan ke PT. Aljajira Qatar karena dianggap tidak bisa bekerja dan lemah. Di perusahaan itu  korban mengalami tindakan kekerasan karena dianggap tidak bisa bekerja. Sri akhirnya dikirim pulang dengan tanpa gaji.

Sepulang dari Qatar pada Juli 2014 itu Sri semakin kerap sakit. Beberapa waktu lalu korban memeriksa kesehatan ke RSUD Tanjung.  Setelah diperiksa dan melihat hasil rongent ternyata ginjal sebelah kanan korban tidak ada dan sudah diganti dengan pipa plastik. Sri kini tengah  menunggu jadwal operasi untuk mengangkat pipa itu.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

500 Kamisan, Korban Terus Tagih Janji Penyelesaian Kasus HAM Masa Lalu

  • Haris Azhar: Novel Cerita Ada Petinggi Polisi Terlibat Penyerangan
  • Terdakwa Penodaan Agama di Medan, Dituntut 2 Tahun 6 Bulan Penjara
  • Perppu Akses Informasi Keuangan Disahkan Menjadi Undang-undang

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.