Tanah Geser dan Longsor di Banjarnegara, Belasan Keluarga Mengungsi

Material longsoran semakin mendekati permukiman warga. Akibatnya, sekitar 14 keluarga dengan total 45 jiwa terpaksa mengungsi.

Senin, 08 Jan 2018 13:40 WIB

Ilustrasi. Warga berdiri di depan sebuah rumah yang hancur di Jatiluhur Desa Padangjaya, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah akibat pergeseran tanah. (Foto: KBR/Muh Ridlo)

KBR, Banjarnegara – Curah hujan tinggi yang terjadi akhir pekan lalu di Banjarnegara, Jawa Tengah memicu gerakan tanah dan longsor di Desa Bantar Kecamatan Wanayasa, Minggu (7/1/2018) sore hingga malam.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rachman mengatakan gerakan tanah terjadi di area seluas puluhan hektar di Dusun Sikenong dan Pramen. Lokasi lahan bergerak itu berada di lereng perbukitan.

Arif mengatakan material longsoran semakin mendekati permukiman warga. Akibatnya, sekitar 14 keluarga dengan total 45 jiwa terpaksa mengungsi.

Di titik lainnya, gerakan tanah juga terjadi di jalan penghubung antara Desa Bantar menuju Desa Suwidak Kecamatan Wanayasa. Gerakan tanah juga memicu jalan amblas sedalam dua meter dengan panjang 50 meter. 

Arif menyarankan warga yang rumahnya terancam longsor agar tetap bertahan di pengungsian. Sebab, gerakan tanah diperkirakan masih akan terjadi jika hujan deras turun di daerah ini.

"Tiang listrik sudah miring, sehingga khawatir longsor beneran. Warga terus mengungsi ke tempat saudara yang lebih aman. Satu hal yang positif karena warga sudah tanggap bencana, daripada terkena dampak lebih baik mengungsi. Kami sudah komunikasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, karena jalannya juga turun dua meter sepanjang 50 meter," kata Arif Rachman, di Banjarnegara, Senin (8/1/2018).

Pergerakan tanah di Desa Bantar rupanya tidak terjadi tiba-tiba. Kepala Desa Bantar, Eko Purwanto menjelaskan gerakan tanah sebelumnya pernah terjadi dan merusak sejumlah rumah di Dusun Sikenong dan Pramen. Eko mengatakan pemerintah desa bersama BPBD Banjarnegara saat ini terus memantau gerakan tanah. 

Berdasar pantauan relawan, kata Eko Purwanto, pada Senin pagi gerakan tanah masih terus terjadi. Mahkota longsor dengan perumahan warga hanya tinggal berjarak sekitar 30-50 meter. Sebab itu, warga semakin khawatir. 

Pemerintah desa memutuskan mengungsikan warga yang rumahnya terancam. Eko berharap agar pemerintah kabupaten segera memperbaiki jalan yang amblas, karena jalan itu amat vital bagi warga untuk aktivitas sehari-hari.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.