Kecanduan Gawai Hingga Sakau, Dua Remaja di Bondowoso Dirawat di Poli Jiwa RSU

"Kalau tidak diberi gawai, dia menangis, berontak dan membenturkan kepala ke tembok. Kecanduan mereka sudah memprihatinkan, dan perlu mendapat penanganan serius," tambah Dewi.

Jumat, 12 Jan 2018 13:55 WIB

Ilustrasi. Dua remaja menggunakan ponsel. (Foto: KBR/Friska Kalia)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

ARTIKEL TERKAIT

KBR, Bondowoso – Dua remaja usia Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bondowoso mendapatkan perawatan di Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur.

Berdasarkan diagnosa dokter spesialis jiwa, dua remaja itu mengalami kecanduan gawai (gadget).

Dokter Spesialis Jiwa di RSU Dr Koesnadi, Dewi Prisca Sembiring mengatakan dua remaja itu dibawa ke rumah sakit dengan diantar orang tua masing–masing. Orang tua pasien merasa khawatir dengan adanya perubahan perilaku anak.

"Pasien datang dibawa orang tua karena ada perubahan perilaku. Pasien itu tidak mau bersekolah dan sudah berlangsung beberapa bulan. Saat saya wawancara dan melarang menggunakan gawai, dia berontak dan marah–marah," kata Dokter Dewi Prisca saat berbincang dengan KBR, di Bondowoso, Jumat (12/1/2018).

Dewi mengatakan berdasarkan diagnosa yang ia lakukan, dua remaja itu mengalami kecanduan layaknya pasien yang kecanduan narkotika. Dua pasien itu menunjukkan gejala sakau hingga berusaha melukai diri sendiri.

"Kalau tidak diberi gawai, dia menangis, berontak dan membenturkan kepala ke tembok. Kecanduan mereka sudah memprihatinkan, dan perlu mendapat penanganan serius," tambah Dewi.

Hasil pemeriksaan psikologis yang dilakukan dokter, kata Dewi, juga menunjukkan hal yang menakutkan. Salah seorang remaja itu menggambarkan diri sendiri sebagai pembunuh. Menurut Dewi, pasien yang ditanganinya itu menganggap dirinya sebagai salah satu karakter game yang kerap dimainkan.

"Dia menggambar sosok tanpa kepala dan menggambarkan itu sebagai sosok pembunuh. Saat saya tanya siapa yang mau dibunuh, dia menjawab 'ayahnya' karena ia dilarang bermain laptop dan handphone," kata Dewi.

Dewi menduga dua pasien itu mengidap Gaming Disorder, dimana penderita merasa sangat tergantung dengan gawai dan permainan atau game didalamnya. 

Beberapa waktu lalu Badan Kesehatan Dunia WHO berencana memasukkan gejala ketagihan bermain game ke dalam salah satu gangguan kesehatan mental.

Baca juga:

Cara Diagnosa Awal Bagi Orang Tua

Dokter spesialis jiwa di RSU Dr Koesnadi Bondowoso, Dewi Prisca Sembiring mengingatkan seluruh orang tua untuk lebih memperhatikan anak–anak saat menggunakan gawai. Banyak orang tua yang menganggap ketertarikan anak pada gawai merupakan hal biasa karena perkembangan zaman. Padahal, kata Dewi, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan orang tua, dan itu menjadi ciri awal anak bisa mengidap kecanduan gawai.

"Banyak orang tua menganggap ini hal biasa. Padahal ada ciri–ciri dimana anak jatuh dalam adiksi atau kkecanduan. Awalnya anak hanya menggunakan gawai sebagai suatu kesenangan, kemudian dia akan khawatir jika tak ada gawai," jelas Dewi.

Dewi meminta orang tua waspada manakala anak mulai berbohong dan melupakan atau lalai mengerjakan tugas utama seperti sekolah, belajar hingga bermain dan berinteraksi secara sosial. Jika kondisinya sudah seperti itu, Dewi meminta orang tua segera mengambil tindakan dengan membawa anak untuk diperiksa, terutama ketika anak sudah mulai menarik diri dari aktifitas dan kegiatan sehari–hari.

"Sebenarnya, saat anak menghabiskan lebih banyak waktu dengan gawai daripada berbicara atau beraktifitas, itu harus diwaspadai. Terparah adalah saat anak mulai membantah dan sensitif serta bersikap agresif. Artinya perilakunya berubah," kata Dewi.

Saat ini Poliklinik Jiwa RSU Dr Koesnadi sedang menggagas program kunjungan ke sekolah–sekolah, utamanya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kunjungan dokter spesialis kejiwaan itu dimaksudkan untuk memberikan berbagai informasi soal gangguan psikologis yang mungkin terjadi pada anak–anak. 

Program kunjungan ke sekolah-sekolah itu akan dimulai awal Februari mendatang. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Puasa kali ini bertepatan dengan masa kampanye pilkada 2018