Kisruh RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso, Puluhan Dokter Spesialis Tagih Janji Bupati

"Kami merasa tidak dihiraukan. Sejak hari ini kami sudah memutuskan untuk tidak lagi mematuhi direktur,”

Senin, 09 Jan 2017 21:34 WIB

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Bondowoso– Puluhan dokter spesialis di Rumah Sakit Umum (RSU) Dr. Koesnadi Bondowoso  mengultimatum Bupati Bondowoso. Mereka geram lantaran janji Bupati Bondowoso untuk segera mengganti  Direktur RSU  tak kunjung ditepati.

Ketua Komite Medik RSU Dr. Koesnadi Bondowoso, Dr. Andreas Andrianto mengatakan sudah melayangkan surat kepada Bupati Bondowoso yang isinya meminta Bupati menepati janji untuk mengganti direktur RSU, Dr. Agus Suwardjito.

“Tuntutan tetap sama. Katanya mau ada pergantian direksi di awal Januari tapi kok ternyata tetap. Kami merasa tidak dihiraukan. Sejak hari ini kami sudah memutuskan untuk tidak lagi mematuhi direktur,” kata Andreas Andrianto kepada KBR, Senin (9/1/2017).

Dikatakan Andreas, meredanya tuntutan 22 dokter spesialis pada November lalu dikarenakan adanya proses akreditasi rumah sakit. Menurut Andreas, kala itu, para dokter sepakat untuk mendahulukan akreditasi daripada tuntutan mereka. Apalagi Dr. Agus Suwardjito selaku direktur saat itu telah menyatakan mundur dari jabatannya.

“Kami sempat mereda karena ada akreditasi untuk rumah sakit. Akhirnya sudah lulus dengan predikat tertinggi yaitu paripurna. Kalau saat itu kita teruskan pasti tidak lulus. Tapi kok Bupati tanggapannya begitu,” imbuh Andreas.

Dalam surat yang dilayangkan kepada Bupati Bondowoso, Amin Said Husni, 22 dokter spesialis mempertanyakan alasan Bupati Bondowoso tetap mempertahankan Dr. Agus Suwardjito sebagai direktur mengingat telah terjadi krisis kepercayaan oleh seluruh komponen RSU kepada Dr. Agus.

22 dokter spesialis menganggap Dr. Agus tidak peduli dengan keselamatan dokter dan pasien. Terbukti beberapa hari pasca selesainya akreditasi masih terjadi mati lampu saat operasi berlangsung. Para dokter juga berencana akan menggelar aksi keprihatinan tanpa mengesampingkan pelayanan kepada pasien.

Sebelumnya 22 dokter spesialis yang bertugas di RSU Dr. Koesnadi mengajukan surat pengunduran diri kepada managemen, dan pencabutan Surat Izin Praktek (SIP) kepada Dinas Kesehatan pada November 2016 lalu. Alasan para dokter spesialis ini mengancam akan mundur kala itu, selain karena buruknya managemen, sarana prasarana dan alat kesehatan di RSU, tak dibayarnya tunjangan spesialis juga menjadi alasan lain.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim