Jelang Imlek, Pasokan Ikan Dewa dari Banyumas Turun Akibat Proyek Listrik

"Dulunya bisa menyiapkan 2 kwintal, bahkan 3 kwintal, untuk acara menjelang Imlek, sekarang saya hanya bisa menyediakan 27 kilogram,”

Jumat, 27 Jan 2017 15:15 WIB

Air keruh akibat pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi membuat banyak ikan dewa yang mati di Banyumas. (Foto: KBR/Muhammad Ridho)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Banyumas– Pembudidaya ikan dewa atau tambra (Tor tambroides) Karangtengah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tak mampu memenuhi lonjakan permintaan menjelang perayaan Imlek. Pengelola pusat pembudidayaan ikan dewa di Karangtengah, Sukaryo mengatakan pasokan turun akibat turunnya kualitas air.

Kata dia, penurunan kualitas air ini  disebabkan  pembangunan jalan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden di lereng selatan Gunung Slamet. Pembangunan membuat air keruh sehingga  menyebabkan banyak ikan yang mati. Akibatnya, stok ikan yang mestinya menjadi persiapan jelang imlek berkurang.

"Sayangnya, ikannya banyak yang mati. Sebab, ikan ini memang memerlukan air dengan kualitas yang bagus dan jernih. Dampak lumpur selama 3,5 bulan terakhir menyebabkan berbagai penyakit muncul. Antara lain, cacar. Selain itu air berlumpur menyebabkan ikan kekurangan oksigen." Keluh Pengelola pusat pembudidayaan ikan dewa di Karangtengah, Sukaryo.

Biasanya, kata Sukaryo, dia bisa menyuplai antara 200 kilogram hingga 300 kilogram  menjelang imlek. Namun, hingga Kamis kemarin (26/1/2017) dia hanya bisa menyediakan 27 kilogram ikan dewa untuk keperluan upacara imlek.

Sukaryo menjelaskan, harga ikan dewa konsumsi adalah Rp. 1 juta per kilogram.

“Jelang imlek itu kan meningkat untuk ukuran konsumsi. Kebanyakan untuk orang-orang Cina kan memang jenis ikan ini (dewa). Ada mistis-mistis tertentu yang dipakai. Yang kebetulan yang dikonsumsi kan ikan ini. Permintaan sekarang itu kan banyak banget. Tapi saya tidak bisa menyuplai. Karena memang dengan kondisi seperti ini (air keruh). Yang dulunya bisa menyiapkan 2 kwintal, bahkan 3 kwintal, untuk acara menjelang imlek, sekarang saya hanya bisa menyediakan 27 kilogram,” jelas Sukaryo, Jumat (27/1/2017).

Selain ikan dewa, kata Sukaryo, seringkali dia mendapat pesanan paket ikan bawal putih. Namun sayangnya, hampir serupa dengan ikan dewa, ikan bawal  putih tangkapan nelayan juga sangat minim. Informasi yang diterimanya dari nelayan, gelombang tinggi dan cuaca buruk menyebabkan nelayan tidak bisa melaut sehingga tidak bisa memenuhi pesanan ikan bawal putih.

Editor: Rony Sitanggang

 
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.