Alat Pengering Tak Efektif, Harga Gabah Anjlok

Petani kebingungan antara segera memanen padi atau tidak. Jika padi tidak segera dipanen, para petani khawatir tanaman mereka semakin parah diserang hama wereng.

Selasa, 31 Jan 2017 10:16 WIB

Petani di Rembang kesulitan mengeringkan gabah karena curah hujan masih tinggi. (Foto: Musyafa/KBR)


KBR, Rembang – Para petani di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah kebingungan menghadapi cuaca saat ini. Menjelang panen raya padi, curah hujan ternyata masih tinggi.

Salah seorang petani di Kecamatan Kaliori, Rembang, Kiswanto mengatakan petani kebingungan antara segera memanen padi atau tidak. Jika padi tidak segera dipanen, para petani khawatir tanaman mereka semakin parah diserang hama wereng.

Namun jika dipanen sekarang, tidak ada orang yang mau membeli gabah petani. Kiswanto menyebut para tengkulak enggan membeli gabah petani, karena tidak bisa mengeringkan hasil panen akibat minimnya panas matahari.

Kondisi tersebut mengakibatkan harga gabah anjlok. Saat ini harga gabah Rp2.900 per kilogram. Padahal tahun lalu harganya mencapai Rp3.800 per kilogram.

"Curah hujan tinggi sehingga gabah tidak bisa dijemur dan tidak bisa menjadi beras. Tengkulak pun nggak berani beli. Kalau dihitung ongkos pertanian, petani ya rugi. Biaya perawatan naik, obat–obatan (tanaman) naik. Minimal (harga jual gabah) paling tidak Rp3.500 per kg, supaya bisa nutupi biaya," kata Kiswanto kepada KBR, Selasa (31/1/2017).

Baca juga:


Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Dan Hortikultura di Kabupaten Rembang, Sukaryo menyatakan sebenarnya pemerintah sudah membagikan alat pengering gabah, namun tidak efektif.

Petani beralasan operasional mesin ribet dan membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) lumayan.

"Biayanya terlalu tinggi untuk beli BBM, jadi nggak kita sarankan pakai alat pengering. Ya yang agak efektif hanya bantuan terpal untuk menjemur gabah. Petani sendiri beranggapan kalau memakai alat pengering, nggak usah ngapa-ngapaian. Padahal tiap jam gabah harus dibalik–balik. Petani nggak mau (pakai alat pengering), gabah malah gosong kayak emping," ungkapnya.

Sukaryo menambahkan jalan satu–satunya memang mengandalkan panas matahari. Jika terus–terusan mendung, maka kualitas gabah sudah pasti akan merosot.

Baca juga:
Kementan: La Nina Untungkan Petani Hortikultura  


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu