3 Peserta Diksar Mapala Tewas, Rektor UII Mundur

"Kami mohon sampaikan maaf pada seluruh bangsa Indonesia yang telah mencemarkan nama baik pendidikan dengan terjadinya kekerasan yang seharusnya tidak boleh terjadi,"

Kamis, 26 Jan 2017 16:40 WIB

Rektor UII Harsoyo (batik biru) saat mendatangi rumah duka. (Foto: KBR/Eka J.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Yogyakarta- Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Harsoyo mengundurkan diri menyusul insiden meninggalnya tiga mahasiswa peserta pendidikan dasar The Great Camping Mapala Unisi. Harsoyo memutuskan mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Pernyataan pengunduran diri Harsoyo disampaikan setelah bertemu dengan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di kantor Kopertis Wilayah V DIY.

"Kesalahan mutlak ada pada pimpinan. Sebagai tanggung jawab moral saya, saya mengundurkan diri sebagai rektor UII. Kami mohon sampaikan maaf pada seluruh bangsa Indonesia yang telah mencemarkan nama baik pendidikan dengan terjadinya kekerasan yang seharusnya tidak boleh terjadi," kata Harsoyo, Kamis (26/1/2017).

Dalam pernyataan resminya, Harsoyo kembali meminta maaf pada orang tua dan peserta TGC. Menurut Harsoyo, TGC telah berlangsung sebanyak 37 kali. Sejak Mapala Unisi berdiri 3 Juli 1974, insiden di pegunungan Lawu Karanganyar ini merupakan yang terburuk.

"Mapala Unisi berdiri 42 tahun. Kejadian yang memilukan baru terjadi kali ini sehingga kami seluruh sivitas akademika syok atas kejadian itu karena tidak pernah terjadi. Kecelakaan fatal pun belum pernah terjadi. Tetapi ini bukan kecelakaan fatal tapi meninggal ini kejadian yang luar biasa," lanjut Harsoyo.

Terkai pengunduran diri rektor UII Harsoyo, Menristekdikti Mohamad Nasir mengapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab. Menurut Nasir, langkah Harsoyo menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain di Indonesia baik negeri maupun swasta. Pengunduran diri adalah bentuk tanggung jawab terhadap kesalahan yang menyebabkan kerugian, dalam hal ini hilangnya nyawa seseorang.

Menristekdikti Mohamad Nasir menegaskan, pengunduran diri Harsoyo tidak lantas menghentikan penyelesaian kasus dugaan penganiayaan tersebut.

"Tapi tidak berarti berhenti urusan ini. Kasus ini harus selesai. Kalau nanti di perguruan tinggi lain terjadi, ini menjadi contoh. Kalau terjadi kesalahan yang di dalamnya menjadi tanggung jawabnya yang menyebabkan kerugian atau hilangnya nyawa seseorang, ini adalah bentuk tanggung jawab," kata M Nasir.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.