Penerobos Istana Terancam Pasal Berlapis

Pelaku merupakan warga Bekasi, Jawa Barat bernama Ivon Rekso alias Muhammad Khalifah (44).

Selasa, 19 Des 2017 21:27 WIB

Foto: presiden.go.id

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Kepolisian Indonesia menyatakan penerobos Istana Merdeka di Jakarta pada Senin (18/12) bisa dikenakan pasal berlapis. Penerobos merupakan warga Bekasi, Jawa Barat bernama Ivon Rekso alias Muhammad Khalifah (44).

Juru bicara Kepolisian Indonesia, Martinus Sitompul mengatakan, Ivon bisa dijerat dengan pasal ancaman kekerasan hingga pasal pelanggaran asusila.

"Banyak pasal. Pasal 207 KUHP bisa, pasal 45 juncto ayat 27 mendistribusikan yang memuat pelanggaran susila. Pasal 45 b juncto 29 berisi ancaman kekerasan itu bisa. 336 mengancam dengan kekerasan terhadap orang  secara terang-terangan," jelas Martinus, Selasa (19/12/2017).

Martinus menuturkan, berdasarkan pemeriksaan awal, Ivon nekat menerobos istana karena ingin bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan ancaman. Namun belum diketahui ancaman tersebut. Polisi tidak menemukan senjata tajam atau benda berbahaya dari Ivon.

"(Isi hpnya?) Ada ujaran kebencian, ancaman kekerasannya, ada ancaman pembunuhannya.(Barang bukti lain?) Ga ada, dia ga bawa senjata tajam. Barang bukti hanya hpnya saja. Kemudian hpnya dilihat jejak digital yang ada di hpnya ternyata penuh dengan ujaran kebencian ancaman kekerasan ancaman pembunuhan. Ada ke pak presiden, pak Prabowo, juga pak SBY."

Polisi sudah membawa Ivon Rekso ke Rumah Sakit Kramat Jati Polri untuk memeriksa kejiwaan pelaku. Menurut Martinus, ada indikasi penerobos mengalami gangguan jiwa karena jawabannya tidak konsisten saat ditanya petugas kesehatan. 

"Kalau gila ya gugur, tapi kalau dia beralibi gila nggak bisa karena kan pasti pemeriksaan dia didalami. Kalau patut diduga kelainan jiwa kan harus diperiksa lebih dari sekali. Dilakukan pertanyaan-pertanyaan secara lisan dan tertulis itu teknisnya," tegas Martinus. 

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

RKUHP, Koalisi Kebebasan Pers Sangsi Audiensi dengan DPR Bawa Perubahan

  • BMKG : Kemarau di Aceh Berlanjut Hingga Maret
  • Israel Beli Minyak Ke ISIS
  • TC Tahap Dua TImnas, Milla Tak Panggil Evan Dan Ilham

Tidak lama lagi kita akan merayakan pesta rakyat yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang jatuh pada tahun 2019.