KLB Difteri, IDAI Desak Imunisasi di Seluruh Provinsi

"Bagaimana menyetop rantai penyebarannya ketika tidak dilakukan serempak?"

Senin, 11 Des 2017 22:27 WIB

Perawat mengunakan baju steril saat akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terkena virus 'Difteri' di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Jumat (8/12). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta-  Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak imunisasi serentak untuk menghentikan penyebaran difteri juga dilakukan di daerah lain yang sudah ditemukan kasus. Ketua IDAI Aman Pulungan mengingatkan imunisasi massal yang dilakukan di tiga provinsi, Senin(11/12), belum cukup untuk menghentikan penyebaran virus.

Kata dia, mobilitas seseorang tidak bisa diprediksi.

"Ini hanya pada tiga provinsi. KLB-nya 20 provinsi. Harusnya dua puluh dong. Bagaimana menyetop rantai penyebarannya ketika tidak dilakukan serempak?" Ujar Aman saat dihubungi KBR, Senin(11/12).

Hari ini, Kementerian Kesehatan menggelar vaksinasi massal di 3 provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Potensi penularan difteri di tiga provinsi itu diperkirakan lebih cepat karena kepadatan penduduknya yang tinggi.

Baca: Angka Kematian Akibat Difteri di Jawa Barat Meningkat 
 

Di sisi lain, kasus difteri sudah ditemukan di setidaknya 20 provinsi di Indonesia. Selain tiga provinsi yang diprioritaskan pemerintah, penyakit difteri juga ditemukan di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Kalimantan Timur.

Aman meminta masing-masing pemerintah daerah juga lebih proaktif mengupayakan pengadaan imunisasi serentak.

"Kalau misal belum ada dana, lalu kapan mau mulainya? Kalau tahun depan, mulainya dari mana? Nanti belum tiga kali, dari 20 provinsi jadi 21 provinsi."

Kementerian Kesehatan sudah mewajibkan warga negara berusia di bawah 19 tahun diimunisasi. Namun Aman juga berpendapat bahwa imunisasi sebaiknya dilakukan bagi orang dewasa. Sebab tubuh orang dewasa juga bisa menjadi media pembawa virus penyakit difteri.  


Kebutuhan Vaksin
 

PT Bio Farma (Persero) memastikan sanggup memenuhi kebutuhan vaksin difteri, yang kini berstatus kejadian luar biasa (KLB). Juru bicara Bio Farma Nurlaela Arief mengatakan, perusahaannya mampu memproduksi vaksin 2 miliar dosis setiap tahun, termasuk tiga vaksin yang mengandung anti-difteri.

Kata dia, perusahaannya akan memprioritaskan peoduksi untuk kebutuhan vaksin di dalam negeri ketimbang pesanan negara lain.

"Tentunya kami siap menyediakan sesuai dengan permintaan, kebutuhan, dan kami prioritaskan kebutuhan dari Kementerian Kesehatan. Maksudnya kebutuhan dalam negeri dulu, sebelum kami kirim kebutuhan global. Karena kami memprioritaskan kebutuhan vaksin dalam negeri, tentunya kebutuhan atau pesanan yang sudah dipesan oleh negara berkembang atau melalui UNICEf, kebutuhannya dialihkan dulu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," kata Nurlaela kepada KBR, Senin (11/12/2017).

Baca: Wabah Difteri, Kemenkes Sebar Vaksin Ke 17 Provinsi    

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.