Dukcapil Kemendagri Ikut Telusuri Identitas Penyerang Novel Baswedan

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri memiliki perangkat yang mampu mengumpulkan informasi seseorang melalui identifikasi foto.

Minggu, 10 Des 2017 20:15 WIB

Kapolda Metro Jaya, Idham Aziz menunjukkan 2 sketsa baru pelaku penyerangan Novel Baswedan. (Foto: KBR/Ade I.)

KBR, Jakarta - Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri menyanggupi permintaan Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya untuk menelusuri identitas pelaku penyerangan penyidik KPK, Novel Baswedan.

Menurut Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakhrullah, institusinya memiliki perangkat yang mampu mengumpulkan informasi mengenai seseorang melalui identifikasi foto.

"Kalau fotonya  identik, kami bisa mengidentifikasinya melalui face recognition. Misalnya ada orang demo (lalu ada dugaan melakukan tindak pidana-red) itu bisa kami cari melalui alat tersebut," tutur Zudan ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (10/12) sore.

Namun begitu kata Zudan, hingga akhir pekan ini kementeriannya belum menerima data dari Polda Metro Jaya.

Pada Jumat (8/12) lalu, juru bicara Polda Metro Jaya Argo Yuwono mengaku telah berkoordinasi dengan Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri terkait perburuan pelaku penyerangan Novel Baswedan. Koordinasi yang dimaksud adalah meminta bantuan untuk melacak identitas pelaku menggunakan sketsa wajah terduga pelaku yang dimiliki kepolisian.

Baca juga:

Lebih dari delapan bulan kepolisian tak kunjung mampu mengungkap pelaku, apalagi dalang penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Akhir Juli lalu polisi sempat merilis sebuah sketsa wajah yang, belakangan tak diyakini sebagai pelaku.

Lantas pada penghujung November 2017, polisi kembali mengumumkan 2 sketsa wajah yang diduga sebagai penyerang Novel. Langkah ini diikuti dengan membuka layanan pengaduan (hotline). Kapolda Metro Jaya Idham Aziz mengatakan, temuan itu merupakan hasil kerja 167 penyidik dan pemeriksaan 66 saksi. Polisi melakukan penyelidikan ulang atas perkara ini.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.