Didemo Nelayan Cantrang Rembang, Menteri Susi: Laut Harus Jadi Masa Depan Bangsa

"Laut harus menjadi masa depan bagi bangsa kita. Nggak cuma untuk sekarang, tapi untuk puluhan ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Ikan di laut untuk cucu–cucu kita, cicit dari cucu–cucu nanti."

Jumat, 08 Des 2017 09:22 WIB

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo makan ikan saat menghadiri acara di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (7/12/2017). (Foto: KBR/Musyafa)

KBR, Rembang - Kedatangan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada Kamis, 7 Desember 2017 sore disambut demonstrasi para nelayan cantrang.

Mereka menuntut supaya pemerintah memperpanjang masa toleransi pemakaian jaring cantrang. 

Para nelayan membentangkan poster berisi tuntutan mereka di depan Hotel Fave Rembang, tempat menginap Menteri Susi, yang berada di pinggir jalur Pantura Semarang-Surabaya, di seberang kawasan alun-alun Rembang.

Menteri Susi Pujiastuti sebelumnya mengeluarkan kebijakan larangan penggunaan alat tangkap cantrang dan sejenisnya yang tidak ramah lingkungan, melalui Peraturan Menteri Nomor 271 tahun 2016. Larangan cantrang mulai diberlakukan pada 31 Desember 2016. 

Namun karena ramai penolakan, pemerintah akhirnya memperpanjang batas waktu toleransi penggunaan cantrang hingga Juni 2017, dan kemudian diperpanjang lagi hingga 31 Desember 2017. Namun toleransi penggunaan cantrang hanya untuk wilayah Jawa Tengah saja.

Meski begitu, para nelayan di Rembang Jawa Tengah tetap menginginkan agar alat tangkap jaring cantrang tetap dilegalkan. Apalagi, mereka beralasan banyak pemilik kapal masih dibelit utang bank dan belum bisa mengganti alat tangkap lain. 

Salah seorang pemilik kapal cantrang di Rembang, Siswanto mengklaim dampak larangan penggunaan jaring cantrang tidak hanya dirasakan nelayan tapi berdampak di sektor perekonomian lain.

"Ada 300-an kapal cantrang di sini. Tiap kapal cantrang butuh perbekalan senilai Rp150 juta ketika berangkat melaut. Ketika kapal tidak beroperasi, penjual beras, es batu, rokok dan sebagainya mengalami sepi omset. Pasar pun turut terkena imbasnya. Sampai tukang becak juga mengeluh penghasilan menurun. Jadi tak hanya berkutat pada pemilik kapal, nelayan maupun buruh di pelabuhan," kata Siswanto, di Rembang, Kamis (7/12/2017).


Baca juga:

Acara syukuran

Aksi nelayan di depan Hotel Fave Rembang tak bertahan lama. Usai Maghrib, massa membubarkan diri. Ketatnya penjagaan aparat TNI/Polri, membuat peserta aksi yang tidak mengantongi izin demonstrasi, mengurungkan niat untuk melanjutkan sampai malam.

Di alun-alun Rembang, Jawa Tengah, Menteri Susi menggelar acara syukuran penenggelaman kapal asing pencuri ikan di perairan Indonesia, pada Kamis, 8 Desember 2018 malam. 

Sejumlah pejabat hadir, termasuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Bupati Tegal Ki Enthus Susmono.

Ketika menyampaikan sambutan, Bupati Rembang Abdul Hafidz sama sekali tak menyinggung jaring cantrang. Ia hanya menyebutkan garis pantai di wilayah Rembang mencapai 63 kilometer. Sekitar 30 persen warga Rembang menggantungkan penghasilan dari profesi nelayan.

"Saya berharap kehadiran Bu Susi ke sini akan mendatangkan manfaat bagi nelayan, supaya ke depan lebih sejahtera," kata Bupati Abdul Hafidz.

Ketika memberi sambutan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bercanda dengan mendadak membalikkan badannya. Ternyata ia hanya ingin menunjukkan baju batik yang dikenakannya bermotif ikan pada punggungnya. 

"Bu Susi, baju motif ikannya saya pakai lho, jadi jangan ditenggelamkan. Nah, kenapa malam ini Bu Susi ngundang dalang Ki Enthus, maksudnya kepengin ndongeng tentang kekayaan laut kita yang begitu luas. Di laut kita jaya," kata Ganjar disambut tawa para undangan.

Baca juga:

Menteri Susi Pudjiastuti dalam sambutannya menegaskan pemerintah sedang berupaya mewujudkan kedaulatan sektor kelautan di perairan Indonesia. Setelah menenggelamkan kapal–kapal asing, kata Susi, Presiden Joko Widodo juga menginginkan agar laut dijaga untuk keberlanjutan pada masa mendatang. 

Susi menyadari banyak kebijakannya ditentang. Padahal menurutnya langkah tersebut demi kepentingan nelayan sendiri.

"Laut harus menjadi masa depan bagi bangsa kita. Nggak cuma untuk sekarang, tapi untuk puluhan ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Ikan di laut untuk cucu–cucu kita, cicit dari cucu–cucu nanti. Kalau saya dipakai terus sampai lima tahun, begitu selesai jadi Menteri, akan menjadi warga biasa. Tapi saya sudah sumbangkan tenaga dan integritas yang saya miliki, tanpa ragu dan tanpa takut. Maka saya titipkan laut kepada Anda semua," kata Susi.

Bupati Tegal Ki Enthus Susmono menyumbang keahliannya sebagai dalang wayang kulit. Ia mementaskan lakon wayang "Pandawa Layar", dengan menyisipkan pesan moral mengenai keserakahan mencari ikan tanpa memikirkan nasib generasi berikutnya. 

Ki Enthus juga menyinggung penggunaan alat tangkap ramah lingkungan sebagai bentuk upaya menghargai potensi laut.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Kuasa Hukum: Kepulangan Novel Harus Jadi Momentum Tuntaskan Kasus

  • Aksi Kamisan Tolak UU MD3
  • Majikan Adelina Didakwa Pasal Penghilangan Nyawa Orang Lain
  • Dua Desa Diterjang Lahar Dingin Sinabung

Garut adalah salah satu daerah sentra produksi jeruk di Jawa Barat. Jeruk Garut telah ditetapkan sebagai Jeruk Varietas Unggul Nasional dengan nama Jeruk Keprok Garut.