Aktivis FRI-West Papua, Galesh dan Jefry Wenda tampak berdarah saat ditangkap polisi ketika menggelar aksi 1 Desember di Jakarta, Kamis (1/12/2016). (Foto: LBH Jakarta/Twitter)

KBR, Jakarta - Kepolisian Jakarta menangkap seratusan mahasiswa asal Papua, dalam aksi peringatan deklarasi kemerdekaan Papua 1 Desember.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Kepolisian Jakarta, Hendy F Kurniawan mengatakan mereka ditangkap lantaran membawa atribut Bintang Kejora saat aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

"Kami amankan agar tidak terjadi ricuh. Dari mereka juga ada yang kedapatan membawa atribut Bintang Kejora," kata Hendy saat dikonfirmasi.

Baca juga:


Meski begitu, Hendy mengatakan polisi tidak menahan atau memeriksa mereka. Seratusan mahasiswa Papua itu dibawa ke kantor Kepolisian Jakarta, untuk mencegah timbulnya kericuhan di lokasi unjuk rasa. Polisi kemudian berdialog kepada mereka agar tidak mengulangi aksi serupa.

Setelah berdialog, polisi berjanji segera memulangkan mereka ke tempatnya masing-masing.

"Mereka ini merupakan mahasiswa asal Papua yang berkuliah di Jakarta. Jadi akan dipulangkan ke kediamannya masing-masing," kata Hendy.

Hingga kini, seratusan mahasiswa asal Papua itu masih dikumpulkan di lapangan Sabhara Kepolisian Jakarta.

Baca: Peringatan Papua Merdeka, Komnas HAM Minta Aparat tak Reaktif    

Salahi Aturan

Wakil Koordinator Aksi Mahasiswa Papua, Yohannes mengatakan penangkapan seratusan rekannya itu melanggar demokrasi. Sebab, menurutnya, rekannya yang ditangkap tidak mengibarkan bendera Bintang Kejora.

"Polisi boleh menangkap kami apabila kami mengibarkan bendera (Bintang Kejora)," kata Yohannes, saat ditemui di Kantor Kepolisian Jakarta.

Yohannes menyebut, mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa tinggal di sejumlah wilayah.

"Kebanyakan kos di Tebet, Jakarta Selatan," katanya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!