Victor Yeimo. Foto: suarapapua.com

KBR, Jakarta- Sejumlah aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) ditangkap polisi di kantor KNPB Sentani, Papua menjelang peringatan Deklarasi Bangsa Papua 1 Desember. Ketua Umum KNPB, Victor Yeimo, pihaknya masih mencari informasi perihal jumlah anggotanya yang ditangkap. Menurutnya, penangkapan juga dilakukan terhadap aktivis Papua yang menggelar aksi di Jakarta.

"Sudah dimulai, polisi masuk ke sekretariat KNPB dan ditangkap itu orang-orang. Saya belum pastikan jumlahnya.(Kejadiannya jam berapa?) satu jam yang lalu kira-kira. (Aksi tetap berlangsung?) iya ini kan peringatan. Massa berkumpul banyak," jelas Victor saat dihubungi KBR.

Victor menambahkan ada sekitar 2 ribuan orang di Papua yang akan memperingati Deklarasi Bangsa Papua 1 Desember di berbagai daerah. (smt)

"Ada 16 Dalmas (Pasukan pengendali massa), yang disediakan di sini. Masih banyak lagi intel dan sebagainya," imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto melarang peringatan Deklarasi Bangsa Papua 1 Desember. Ia beralasan, kegiatan itu melanggar konsitusi. Wiranto mengancam akan menangkap mereka yang tetap merayakannya.

"Kalau itu melanggar dilarang dong, gimana, ini negara Indonesia Proklamasi 17 Agustus, kalau ada proklamasi lain ya dilarang, kalau kemudian tetap melaksanakan itu ditangkap karena itu jelas-jelas sudah melanggar undang-undang," kata Wiranto di Kemenkopolhukam (29/11).

Wiranto mengklaim pihak yang memperjuangkan kemerdekaan Papua hanyalah kelompok kecil. Kata dia, pemerintah bakal menjawab suara protes dan kritikan dengan fokus mempercepat pembangunan di Papua. Deklarasi Bangsa Papua 1 Desember biasanya diperingati di berbagai daerah di Papua. Peringatan tersebut kerap diisi dengan kegiatan ibadah dan kegiatan lainnya yang bernuansa syukuran. (smt)
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!