Setnov Mangkir Pemeriksaan Sebagai Tersangka, Ini Saran Jokowi

Setnov beralasan memimpin rapat DPR pada masa persidangan II tahun sidang 2017-2018.

Rabu, 15 Nov 2017 13:58 WIB

Ketua DPR Setya Novanto (kanan) berjalan disaksikan Wakil Ketua Agus Hermanto (kiri) dan Fahri Hamzah (kedua kiri) usai memberikan pidato dalam Sidang Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/11). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo angkat bicara soal pemanggilan terhadap Ketua DPR Setya Novanto oleh KPK. Jokowi meminta semua pihak berpegang pada aturan hukum yang berlaku.

Kata dia, aturan main yang sudah ada, harus diikuti.

"Buka undang-undangnya. Aturan mainnya seperti apa, di situlah diikuti," kata Jokowi di Manado, Sulawesi Utara sebagaimana rilis yang diterima KBR dari Biro Pers Istana, Rabu (15/11/2017).

Ketua DPR Setya Novanto hari ini, Rabu (15/11/17) tidak memenuhi pemanggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dugaan korupsi proyek KTP elektronik. Novanto beralasan   memimpin rapat  DPR pada masa persidangan II tahun sidang 2017-2018.

Dia mengatakan, rapat ini penting karena merupakan tugas Negara.

"Ada Rapim pimpinan-pimpinan. Ini Rapim penting karena program-program awal harus kita lakukan. Tugas-tugas negara harus kita selesaikan," kata Novanto usai rapat Paripurna DPR di Gedung Nusantara II, Komplek Parlemen RI, Rabu (15/11/17).



Selain itu, Novanto juga menolak pemanggilan KPK karena tengah mengajukan uji materi Undang-undang tentang KPK di Mahkamah Konstitusi (MK). Ia mengatakan telah mengirim surat kepada KPK tentang alasan ketidakhadirannya.

"Kita ujilah. Sama-sama kita uji supaya tidak ada perbedaan-perbedaan," ujarnya.

Namun saat ditanya lebih lanjut oleh awak media, Novanto memilih menghindar. Novanto langsung memasuki lift Gedung Nusantara II untuk turun ke lantai dasar.

Awak media kembali mengejar Novanto di lantai dasar Gedung Nusantara II untuk mengkonfirmasi beberapa hal tentang perkaranya di KPK. Namun belasan Petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR dan beberapa ajudan pribadinya menghalangi awak media untuk bertanya.

Sepanjang perjalanan dari Gedung Nusantara II ke ruang Pimpinan DPR di Gedung Nusantara III, awak media harus dorong-dorongan dengan Pamdal dan ajudan pribadi Novanto. Beberapa wartawan bahkan sampai jatuh ke lantai serta ada yang menabrak tembok.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau