Krisis Tembagapura, Mabes Polri Upayakan Buka Isolasi

Kepolisian kesulitan bernegosiasi dengan pemegang otoritas di Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PN)

Senin, 13 Nov 2017 13:44 WIB

Ilustrasi: Bendera bintang fajar berkibar di mile 68, Tembagapura, Papua. (Foto: Ist.)

KBR, Jakarta- Kepolisian Indonesia mengupayakan isolasi di wilayah Tembagapura bisa segera dibuka. Juru bicara Mabes Polri Setyo Wasisto  mengatakan upaya   tersebut mengantisipasi terjadinya korban baku tembak seperti Martinus Beanal yang tertembak dan hilang pada 7 November lalu.

"Kita sih berharap secepatnya (isolasi dihentikan), tapi kan harus secara persuasif. Jangan sampai ada berjatuhan masyarakat yang menjadi korban, itu yang kami hindari," ungkap Setyo Wasisto di kantornya, Jakarta, Senin (13/11/17).

Dia mengatakan hingga saat ini  TNI-Polri di wilayah Tembagapura susah menemukan siapa yang memegang otoritas di dalam Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM).

"Karena negosiasi harus sama yang punya otoritas," kata Setyo.

Sementara, kondisi warga yang tinggal di kawasan Tembagapura, berdasarkan laporan yang Setyo peroleh,  Pemerintah Daerah (Pemda) berupaya memberikan bantuan susu untuk anak-anak dan bantuan pangan lain. Akan tetapi, karena kondisi belum memungkinkan, masyarakat tidak bisa menjangkau ke tempat pendistribusian.

"Pengiriman menggunakan dua kontainer dan dibantu juga penyaluran, tapi warga masyarakat tidak bisa keluar juga. Jadi kurang maksimal, dan diupayakan menggunakan utusan warga ada yang ambil," ujarnya.

Kepolisian, kata Setyo, tidak bisa memastikan sampai kapan upaya persuasif akan dilangsungkan. Mereka menghendaki negosiasi dalam jangka waktu yang tidak terukur. Kendati kondisi warga di wilayah Tembagapura perlu penanganan segera.

"Kita tunggu negosiasi, negosiasi tidak bisa dibatasi waktu," kata dia.  

Sebelumnya petinggi Gerakan Bersatu  Pembebasan Papua Barat (ULMWP) Markus Haluk memastikan, aktivitas  Tentara Pembebasan Nasional- Papua Barat (TPN-PB) takkan membahayakan masyarakat sipil. Markus menjelaskan, tujuan tentara pembebasan semata untuk kepentingan politik mendapat kemerdekaan Papua.

Dia menuding, isu kekerasan termasuk pemerkosaan di Tembagapura sengaja dimunculkan aparat keamanan untuk menyudutkan dan mengaburkan tujuan politik TPN-PB.

“Dalam adat  orang Papua, dan juga dalam hukum militer atau tentara manapun itu tidak ada kekerasan seperti itu. Perjuangan rakyat Papua itu perjuangan suci dan murni. Jadi ada adat yang mengharuskan saat perang atau situasi seperti itu, itu tidak boleh memerkosa ataupun mencuri, membunuh warga sipil. Itu tidak ada. Itu isu yang memojokkan dengan menyebut pelakunya Kelompok Kriminal Bersenjata,” ungkap Markus saat dihubungi KBR melalui telepon, Senin (13/11).

Markus mengklaim, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) hanya menyerang pos-pos polisi. Dan, itupun kata dia dengan mempertimbangkan keselamatan warga sipil.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau