Terlalu Mahal, Pelindo Minta Pemerintah Perlebar Investasi Asing

"Ternyata bikin pelabuhan itu tidak murah. Walaupun kelihatannya hanya reklamasi, ternyata butuh puluhan triliun"

Kamis, 24 Nov 2016 14:21 WIB

Ilustrasi: Pelabuhan Ketapang (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta-  PT Pelindo II (Persero) meminta pemerintah memperlebar keran investasi asing untuk pembangunan pelabuhan. Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) Elvyn G Masassya  beralasan, pembangunan pelabuhan sangat mahal, sehingga tidak banyak investor dalam negeri yang sanggup membiayainya.

"Ternyata bikin pelabuhan itu tidak murah. Walaupun kelihatannya hanya reklamasi, ternyata butuh puluhan triliun. Satu pelabuhan itu saja butuh USD 2 sampai 3 miliar. Untuk itu, harus kita akui kita punya keterbatasan untuk membiayai. Saya jadi berpikir rasanya kita tidak perlu antiasing. Kalau memang dibolehkan, kenapa tidak boleh asing memiliki 51 sampai 60 persen, tetapi dalam kurun waktu tertentu, nanti dialihkan lagi ke Indonesia," kata Elvyn di Jakarta Convention Center, Kamis (24/11/16).

Elvyn mengatakan, saat ini investasi asing untuk pelabuhan baru dibuka maksimal 49 persen dari total investasi. Padahal, kata dia, asing bisa ditempatkan sebagai pemilik modal yang dominan dalam proyek pelabuhan. Meski begitu, kata dia, ketentuan itu dapat dibuat terbatas secara durasi, misalnya hanya 10 sampai 20 tahun.

Elvyn berujar, perusahaannya memiliki mimpi pelabuhan Indonesia bisa setara dengan standar internasional pada 2020. Kata dia, target itu perlu didukung dengan upaya perbaikan kualitas pelabuhan  yang hingga kini ada sekitar 1.800 pelabuhan. Selain itu, infrastruktur di sekitar pelabuhan juga harus digenjot, agar akses distribusi logistik dari dan menuju pelabuhan lebih baik lagi.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.