Sudah 19 Tahun TKI Indramayu Hilang Kontak di Arab Saudi

Juriah bekerja di Arab Saudi sejak 1997. Hingga kini tidak ada kabar beritanya. Ia sudah lapor ke Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi, namun belum ada kabar.

Kamis, 24 Nov 2016 13:48 WIB

Mastara menunjukkan foto putrinya yang hilang di Arab Saudi. (Foto: Frans Mokalu)

KBR, Cirebon - Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Indramayu Jawa Barat hilang kontak di Arab Saudi selama 19 tahun. TKI itu bernama Juriah, asal Desa Sukadana, Blok Karang Moncol, Kecamatan Tukdana, Indramayu.

Orang tua Juriah, Mastara mengatakan, anaknya bekerja di Arab Saudi sejak 1997. Hingga kini tidak ada kabar beritanya. Ia sudah lapor ke Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi, namun belum ada kabar.

"Dia hanya sekali memberi kabar melalui kiriman surat, juga mengirim uang tiga kali dengan jumlah total Rp9 juta. Setelah itu tidak ada kabar lagi," kata Mastara.

Baca: Jadi Pembicara di KTT PBB ke-71, TKI Eni Lestari Suarakan 3 Isu Buruh Migran    

Mastara yang kini berusia 58 tahun mengatakan keluarga juga tidak pernah mendapat kabar dari perusahaan yang mengirim Juriah ke Arab Saudi. Keluarga sudah melaporkan kasus itu ke perusahaan penyalur tenaga kerja di Jakarta, yang menaungi anaknya. Namun tidak ada hasil memuaskan.

Ia pun melaporkan kasus itu ke Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Indramayu, Kamis (25/11/2016). Ia berharap agar SBMI Indramayu membantu mencarikan kabar anaknya dan memulangkan Juriah kembali berkumpul dengan keluarga.  

"Saya tidak tahu sampai sekarang, mengapa anak saya tidak pulang. Keluarga jadi kepikiran, jangan-jangan disana diperlakukan tidak baik sama majikannya," kata Mastara.

Baca: Bekas TKI, Siti Badriah: Sekarang Saya Harus Melobi DPR   

Ketua DPC SBMI Indramayu, Juwarih menyatakan siap mengawal dan mendampingi kasus ini. SBMI juga akan menindaklanjuti pengaduan dari keluarga Juriah.

Namun Juwarih menyesalkan respon lambat dari KBRI terkait laporan pihak keluarga sejak 2007. Laporan tersebut baru direspon oleh pihak KBRI pada tahun 2009, yang isinya tentang klarifikasi usaha penelusuran agency.

"Seharusnya KBRI langsung menelusuri alamat majikan, untuk mengecek kevalidan alamat tersebut, untuk bisa menemukan korban," kata Juwarih.

Baca juga:

 
Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau