Pilkada Jakarta Panas, Imparsial: Sentimen Sara Digunakan untuk Menyerang

"Penggunaan dan penyebarannya di ruang publik belakangan ini juga semakin diwarnai ujaran kebencian yang memupuk dan membiakkan benih-benih intoleransi"

Kamis, 03 Nov 2016 13:26 WIB

Ilustrasi: 3 Pasangan calon gubernur Jakarta. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Koalisi Masyarakat Sipil menilai penggunaan sentimen Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) untuk menyerang lawan politik semakin menghiasi ruang publik jelang Pilkada Serentak 2017. Salah satu yang menjadi sorotan koalisi adalah situasi Pilkada DKI Jakarta.

Direktur Imparsial Al Araf mengatakan adanya isu SARA yang digunakan jelang Pilada sangat berbahaya.

"Kami memandang bahwa menguatnya isu SARa menjelang Pilkada serentak bukan hanya dinamika politik yang tidak konstruktif, tapi juga sangat berbahaya. Apalagi penggunaan dan penyebarannya di ruang publik belakangan ini juga semakin diwarnai ujaran kebencian yang memupuk dan membiakkan benih-benih intoleransi di tengah masyarakat," kata Al Araf di Kantor Imparsial Jakarta Selatan, Kamis (03/11/2016).

Koalisi juga menilai  masyarakat didorong ke dalam sekat primordial yang mengikis kebhinekaan. Oleh karena itu, koalisi meminta sentiman SARA harus dihindari oleh pelbagai pihak.

Selain itu, Al Araf juga menyampaikan aparat keamanan dalam hal ini Polisi, TNI dan Intelejen harus bersikap netral menjelang Pilkada.

"Pemihakan kepada salah satu kandidat atau pemanfaatan situasi politik merupakan bentuk penyimpangan dari profesionalitasnya harus dihindari," imbuhnya.

Aparat juga diminta menjamin keamanan menjelang Pilkada, khususnya menjelang demontrasi besar-besaran besok, 4 November 2016.

Koalisi menyatakan unjuk rasa merupakan hak konstitusional warga yang dilindungi institusi. Meski begitu koalisi mengecam segala bentuk kekerasan dalam unjuk rasa. Mereka juga mengingatkan pentingnya mengedepankan nilai perdamaian dan toleransi menjelang Pilkada.

Koalisi yang menyatakan sikap tersebut terdiri dari sejumlah organisasi. Di antaranya, Imparsial, ELSAM, YLBHI, HRWG, Setara Institute, ILR, LBH Pers dan Kontras.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Jumlah Napi Narkoba Kian Bertambah, Menteri Yasonna Akui Kewalahan

  • Erupsi Gunung Sinabung Abu Vulkanik Capai 3,2 KM
  • Uni Eropa Ajak Suu Kyi Negosiasi soal Rohingya
  • Marquez Diisukan Gantikan Rossi di Yamaha

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau