Petani Telukjambe Karawang mengungsi di kantor LBH Jakarta. (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Perwakilan petani Telukjambe, Karawang, Jawa Barat mengatakan hanya akan mau tinggal di Rusunawa Adiarsa Karawang selama 3 bulan. Setelah itu, menurut Ketua Serikat Tani Nasional (STN), Ahmad Rifai, pemerintah daerah harus menyediakan tempat tinggal, dan lahan garapan untuk para petani secara permanen.


Besok, kata dia, ratusan petani akan dijemput oleh Pemkab Karawang di LBH Jakarta. Mereka akan ditempatkan sementara di Islamic Center Gedung Asrama Haji, sambil menunggu perbaikan rusunawa.

"Kalau tinggal sementara setelah di LBH akan tinggal di islamic center selama 14 hari. Karena 14 hari itu sejak pertemuan 10 kemarin, tanggal 11 itu akan ada renovasi rumah susun yang akan menjadi tempat tinggal mereka sementara, sebelum mereka ditempatkan di tempat permanen, yaitu tanah dan lahan yang sudah disiapkan negara," katanya kepada KBR, Minggu (13/11/2016).

"Kalau kami dari STN secepatnya. Paling lama maksimal tiga bulan," imbuhnya.

Rifai menambahkan, kebutuhan petani selama di Asrama Haji ataupun rusunawa ditanggung Pemkab Karawang. Mulai dari biaya hidup sehari-hari hingga kebutuhan pendidikan dan sekolah. Namun, kata dia besaran dana yang akan diberikan kepada petani belum ditentukan pihak Pemkab Karawang.

"Semua jatah hidup, makan segala macam, sekolah kesehatan anak-anaknya," ungkapnya.

Soal lahan permanen, kata Rifai akan dibicarakan dalam tim yang dibentuk Pemkab Karawang, yang melibatkan Muspida, organisasi bantuan hukum dan serikat petani. Tim ujarnya akan bertugas menyeleseikan masalah tanah dan keberdayaan petani.

Setidaknya 90 orang petani mengungsi ke Jakarta karena lahan mereka dikuasai oleh perusahaan pengembang PT Pertiwi Lestari.

Baca juga: Pengungsi Telukjambe Sakit di Jakarta, Pemkab Karawang Jamin Biaya Perawatan


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!