Ilustrasi (sumber: Antara)


KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2016 akan sesuai target. Alasannya kata dia, meski angka tersebut turun jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencapai angka 5,19 persen, angka pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2016 nanti akan dipengaruhi pada realisasi penggunaan anggaran pemerintah yang diperkirakan akan melonjak tajam di akhir tahun.

"Perkiraan kita di bawah lima sedikit. Ternyata alhamdulillah bisa diatas lima sedikit. Biasanya di kuartal keempat itu penggunaan anggaran itu mulai besar-besaran di situ. Ya kita harapkan dengan trigger dari realisasi pembayaran, realisasi penggunaan anggaran itu akan bisa sedikit lebih baik," ujarnya kepada wartawan usai memberikan arahan kepada Anggota TNI, di Mabes TNI AD, Jakarta, Senin (07/11).

Meski demikian kata dia, pemerintah akan mengatur strategi guna mengantisipasi agar pengaruh perkembangan ekonomi global yang terus mengalami penurunan  tidak berdampak besar pada perekonomian Indonesia.

"Tapi kita harus tahu juga ekonomi global, ekonomi dunia pada posisi yang terus menerus turun. Itu yang harus dicatat," ucapnya.

Belanja Pemerintah

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan akan mengandalkan belanja pemerintah untuk mengerek pertumbuhan ekonomi di triwulan keempat 2016. Sri mengatakan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, belanja pemerintah memang selalu terakselerasi di akhir tahun.

Apalagi, kata dia, tahun ini pemerintah membuat kebijakan menunda pencairan anggaran ke akhir tahun.

"Kuartal keempat, faktor pemerintah, saya harapkan akan lebih positif karena akselerasi belanja di akhir tahun. Kuartal keempat sampai rapim di Kementerian Keuangan kemarin, kami melihat tren belanja hingga akhir tahun bisa di atas 95 persen dari target yang direvisi. Itu akan menjadi faktor positif baik dari konsumsi maupun PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak)," kata Sri di kantor Ditjen Pajak, Senin (07/11/16).

Sri mengakui, pada triwulan ketiga kemarin, kinerja perekonomian dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi masih rendah, karena ada pemotongan anggaran. Apalagi, kata dia, pemerintah juga membuat kebijkan pengampunan pajak atau tax amnesty, yang berarti akan memengaruhi konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah. Adapun kinerja ekspor dan impor juga masih sangat negatif, sehingga sangat berakibat langsung terhadap penerimaan pajak penghasilan (pph) dan pajak pertambahan nilai (ppn) dari kegiatan tersebut.

Sri berujar, dari segi investasi yang tahun ini sangat diandalkan pemerintah sebagai motor perekonomian, dia memperkirakan dampaknya akan terasa di akhir tahun. Kata Sri, upaya pemerintah menderegulasi kebijakan, akan sangat dirasakan perusahaan saat berekspansi bisnis, termasuk dari sisi perbankan. Selain itu, kata dia, penanaman modal baik asing maupun dalam negeri sudah menunjukkan perbaikan, sehingga memposisikan indonesia sebagai negara berkembang yang relatif paling sehat dari sisi pertumbuhan, APBN, dan reformasi kebijakan. 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mengumumkan perekonomian Indonesia pada triwulan ketiga 2016 tumbuh sebesar 5,02 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, nilai itu menurun jika dibandingkan dengan triwulan kedua 2016 yang mencapai 5,18
persen.


Baca: Pertumbuhan Turun

Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga ini ditopang oleh semua lapangan usaha, terutama informasi dan komunikasi sebesar 9,20 persen. Adapun jasa keuangan dan asuransi tumbuh 8,83 persen, dan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh 8,20 persen.

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!