Tim Gegana Brimob Polda Kaltim mengamankan benda diduga sisa bom di lokasi ledakan di depan Gereja Oikumene Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11). Foto: Antara


KBR, Jakarta- Pengamat terorisme sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andrie menyebut terulangnya teror bom di Samarinda Kalimantan Timur karena minimnya pengawasan bagi teroris. Menurutnya, selama ini pemerintah hanya melakukan pengawasan untuk nama-nama tertentu saja. Seharusnya pemerintah memperkuat data base yang kuat sebagai bagian darr program deradikalisasi. 


"Ini kan (anggota) kelompok Pepi Fernando yang kemudian dipenjara di tempat terpisah dari Pepi, kalau tidak salah kondisi Pepi sendiri dan kelompoknya pelan-pelan sudah membaik mereka sudah mulai moderat pelan-pelan. Nah (anggota) kelompok ini mungkin mengalami dua kali re-engagement atau tertarik kembali, yang pertama di penjara Tangerang dimana saat itu banyak pendukung pro ISIS di lapas tersebut, yang kedua ketika dia keluar dari penjara. Saya kira fase ini yang membedakan proses radikalisasi subyek ini," papar Taufik kepada KBR.

Pengamat Teroris, Taufik Andrie menyebut pelaku pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, itu sudah tidak dalam pengaruh kelompok Pepi Fernando, meski pelaku pernah menjadi salah satu anggotanya.

Menurut Taufik Andrie, pelaku bom Samarinda menjalani kurungan terpisah dari kelompok Pepi dan kemungkinan menolak program deradikalisasi. Sementara, kata Taufik, kelompok Pepi justru pelan-pelan sudah mulai melunak.

"Nah yang menarik sebetulnya harus dilihat di proses program intervensinya apakah dia menerima atau menolak. Dugaan saya sih di tahun-tahun itu dia menolak program intervensi yang membuat sebetulnya dia tidak mendapat sentuhan apapun dari program deradikalisasi, jadi tidak bisa disebut berhasil atau tidak berhasil karena kemudian kadang-kadang subyek seperti ini yang cenderung masih keras seperti ini yang tidak bersedia terlibat atau berpartisipasi dalam program deradikalisasi. Nah ketika keluar biasanya jangkauan dia untuk kembali masuk network lebih luas. Orang ini dipenjara di Tangerang tinggal di sekitar Bogor kalau tidak salah, tapi networknya membuat dia bisa bergerak sedemikian jauh kan," tambah Taufik.

Baca: Jokowi Perintahkan Kapolri Usut Peledakan di Gereja Samarinda

Sebelumnya, seorang pria melemparkan bom ke arah Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur, kemarin pagi sekitar pukul 10.10 Wita. Saat itu para jemaat baru saja selesai melaksanakan ibadah dan keluar menuju area parkiran. Akibat ledakan, seorang bocah tewas karena mengalami luka bakar parah dan 3 anak lainnya masih dalam perawatan karena luka-luka.

Kepolisian menyebut pelaku yang berinisal J merupakan anggota kelompok pelaku teror bom buku Puspitek yang dipimpin Pepi Fernando dan pernah menjalani hukuman pidana 3,5 tahun pada 2012, serta mendapatkan remisi pada lebaran tahun 2014.


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!